Your Login Details


A Thought About Digital and Traditional Distribution

Digital Vs. Traditional Distribution. Ini hanya sekedar pemikiran sederhanaku, data tidak didukung oleh bukti nyata, jadi sekali lagi artikel ini hanya opiniku semata. Aku bukan profesional analyst dan bukan pemain dalam dunia tersebut, namun kenapa aku menulis artikel ini? Karena memang lagi ingin dan menyangkut proyek rahasia yang sedang aku tekuni (headspin). Dan sebagai peringatan awal, tulisannya ku ini panjang dan tidak berstruktur, sering lompat-lompat dan tidak memiliki arti yang jelas. Sudahku peringatkan loh :D.

Sebelum membahas tentang topik di atas, mari kita menilik sebentar tentang sejarah Digital Distribution. Sepengetahuan aku, Digital Distribution mulai muncul semenjak kepopulean iPod dan munculnya iTunes Music Store yang di besut oleh Apple Corp. Kalau tidak salah tahun 2003-an adalah dimulainya era Digital Distribution. Pada awalnya perkembangan Digital Distribution, produk yang di bawa hanya Music Digital mengingat kecepatan koneksi internet pada zaman tersebut belum secepat koneksi sekarang. Hal yang logis jika Digital Distribution dimulai dari file-file kecil - namely - file-file musik yang rata-ratanya hanya 5 sampai 6 Mega Bytes.

Digital Distribution pada kancah industri music pada saat ini praktis hampir menggeser Traditional Distribution berupa CD dan Kaset hingga saat ini. Namun apakah tiba-tiba semua orang pindah ke Digital Distribution baik para label dan penggemar musik, jawabannya belum. Masih banyak penggemar musik yang lebih memilih Traditional Distribution karena kepemilikan yang nyata dari produk yang dia beli (Ada kotak CD dan Booklet + CD Art-nya). Namun seiring perkembangannya diperkenalkanlah Digital Booklet yang sama menariknya dengan Booklet pada CD.

Walau industri musik belum sepenuhnya ingin berpaling kepada Digital Distribution namun melihat dari hasil penjualan album artis-artis sekarang yang sudah tidak sebanyak zaman dahulu mau tidak mau mereka harus ikut serta didalamnya. Ini tidak hanya terjadi di negara maju saja, di negara kita sendiri ini pun terjadi, namun perbedaannya Digital Distribution di Indonesia berbentuk Ring Back Tone bukan berbentuk Digital Music store a.l.a iTunes Music Store.

Yang selalu menjadi pertanyaanku, apakah memang sudah saatnya industri musik pindah seratus persen ke Digital Distribution? Dilihat dari perkembangannya akhir-akhir ini, industri musik memang sudah seharusnya mulai condong ke arah sana, lihat saja label-label besar di Indonesia sekarang mula tidak gencar dengan Traditional Distributionnya, makin jarang kita lihat iklan untuk menyuruh kita beli Kaset ato CD, malah lebih sering mengiklankan RBT. Ditambah lagi label-label di Indonesia sekarang mulai bergeser dari distributor musik menjadi distributor artis a.k.a. management artis.

Lalu adakah keuntungan dari Digital Distribution tersebut? Pikiran awal kita pasti sedikit CD dan Kaset maka makin sedikit produksi kertas dan plastik untuk produk tersebut, sehingga Digital Distribution lebih ramah lingkungan. Et, jangan lupa, di balik Digital Distribution ada mesin yang berjalan 24 jam dibelakang untuk menyokokng kegiatannya, jadinya tidak tepat kalau dibilang Digital Distribution itu lebih ramah lingkungan.

Kalau aku lebih berfikir ke arah siapa saja jadi bisa mendistribusikan karyanya ke semua orang tanpa melalui pihak Label yang beribet-ribet, para artis tersebut bisa bebas berekspresi tanpa kekangan pihak label yang khawatir kalau karya artisnya tidak sesuai pasaran. Kalau tidak percaya, semisal aku punya 1 lagu yang aku buat aku bisa langsung mempublisnya lewat Internet. Kalau aku memang tidak mencari keuntungan, aku bisa menguploadnya ke last.fm dan memberikan full download buat siapa saja. Cuman kalau mau jualan dikit aku bisa langsung mensubmit ke Online Music Store seperti iTunes Music Store. Tapi apa mungkin bisa? Coba googling Equinox DMD.

Andy Warhol pernah berkata "In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." Mungkin ada benarnya dia.

Enough about Music Industry, how about Movie or Book Industries? Both of them have equal opportunities in Digital Distribution. So true, aku setuju dengan pernyataan ini. Di Movie Industri, kalau mau dibilang aku aja hampir tidak pernah membeli DVD secara fisik, semuanya aku tonton via Internet atau aku sedot dari Internet, dan kalau lagi ada niat ya pergi ke bioskop biar lebih puas.

Digital Distribution untuk Movie Industri memang semenjak awal memang tidak terlalu signifikan, karena orang-orang masih lebih memilih pergi nonton ke Bioskop. Namun perlu di cermati juga bahwa Traditional versus Digital Distribution di Dunia Per-movie-an bisa dibilang tidak saling mematikan, lihat saja masih banyak orang nonton ke Bioskop (iya, baru inget kalau ternyata Bioskop itu bisa di bilang Traditional Distribution).

Beda dengan Music, hambatan terbesar dari Digital Distribution terbentur pada kecepatan internet yang masih kurang cepat untuk mengunduh film-film yang besarnya bisa lebih dari 1 Giga Bytes. Kalau di negara maju kendala ini hampir tidak ada mengingat kecepatan internet di sana yang selalu bikin ngiri kita orang Indonesia. Namun tidak menutup kemungkinan juga, walau di dukung koneksi internet yang cepat, orang-orang di sana masih lebih suka menonton ke bioskop, lihat saja film terlaris sepanjang masa muncul di tahun sekarang (baca: Avatar).

Orang juga masih lebih memilih ke bioskop karena tata suara yang lebih dan layarnya lebih besar ketimbang kalau nonton di rumah sendiri. Kalau pendapatku Digital Distribution di dunia Per-movie-an masih belum banget.

Nah dari Movie menyambung ke TV, tidak dapat dipungkiri juga bahwa Digital Distribution di dunia per TV-an mulai menggeliat juga. Lihat saja mulai bermunculan layanan TV on demand seperti Hulu atau IP TV - layanan TV via internet. Permasalahannya adalah orang lebih suka nonton acara TV di TV (do'oh).

Satu-satunya alasan orang ingin berpindah ke Digital Distribution di dunia per-TV-an karena mereka ingin melihat tontonan kesukaan mereka kapan saja tanpa harus mengikuti jadwal siarannya. Tapi kalau aku prediksi, pada dunia pertelevisian memang Digital dan Traditional Distributionnya akan selalu jalan beriringan, mengingat masih kuatnya budaya menonton TV.

Selanjutnya mari kita bergeser dari industri Movie dan TV yang besar ke industri Movie dan TV yang lebih kecil a.k.a para pemain independent di dunia tersebut. Sama halnya dengan industri music, para indie-ers di dunia ini dimudahkan dalam pemasaran produknya. Semua orang tiba-tiba bisa mempublish karyanya ke khalayak ramai tanpa halangan.

Dan jangan biarkan aku menulis lebih lanjut mengenai Digital Distribution di dunia percetakan dan perbukuan. Walaupun pada industri ini lebih dominan Digital Distribution dibandingkan Traditional Distribution. Apa lagi dunia game yang sudah mengarah ke arah sana dengan Downloadable Content-nya serta Game On Demand.

Kesimpulannya yang ingin aku ambil di sini sebenarnya, Digital Distribution baru mengalami kesuksesan pada industri musik dan buku/percetakan. Untuk industri lain seperti Movie, TV dan Games perlu waktu yang masih lama untuk Digital Distribution menggeser Tradisional Distribution. Saranku (kepada siapa :P) adalah: Digital Distribution memang satu-satunya Distribution untuk masa depan, bagi pihak-pihak yang bersinggungan dengan Digital Distribution sebaiknya bersiap-siap dari sekarang agar tidak tertinggal.

Sebagai tambahan, dengan Digital Distribution tiba-tiba semua orang bisa mempublikasi karyanya ke khalayak ramai, hanya saja nantinya akan terbentur ke hal promosi yang merupakan bahasan yang beda lagi. Hal ini akan memacu para pelaku independent yang ada di setiap dunia tersebut.

Di akhir kata, sekali lagi maafkan tulisanku yang rada semrawut dan tidak memiliki struktur ini, ingin sekali menuangkan semua pemikiranku dalam tulisan ini, namun karena keterbatasan waktu (a.k.a males) jadi aku sudahi saja tulisan. Mungkin dilain waktu akan aku edit lagi sehingga menjadi tulisan yang lebih bermutu. Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah 2 paragraf terakhir sebelum ini, tapi aku jelimetkan dengan tulisan ngawur nan ngaco :D

 


The Comments

Write a comment

  • Required fields are marked with *. (do'oh)

Type your name here, but it not necessary, because I had anticipate your lazy hand.

Yes, you can leave it empty. It's not like that I'm going to write you an email. But if you do, I will display your Gravatar.

It's unnecessary to provide your blog url, but here it is. Use this format: http://www.dwaan.com.

You're encourage to write a subject. Well if not, I'll give some nasty and ugly subject to your comment.

You really have to write your comment below, it's required. I mean, you want to write a comment wont you?.

If you have trouble reading the code, click on the code itself to generate a new random code.

Sorry, I don't trust you are human. Please type those funky words to prove you are a human.

 

 

Comment
Re: A Thought About Digital and Traditional Distribution
Fri May 03, 2013, 08:46:32
Tulisan yang bagus, movie juga sudah mulai kearah sana dengan Netflix nya.