Your Login Details


Siti Nurbaya (Part 1)

Siti Nurbaya adalah novel klasik dari zaman keemasan sastra Indonesia (sekarang udah zaman kebesian  mungkin, kekeke). Intrik klasik khas zaman dulu dimana perjodohan yang memaksa berakibat akhir yang tragis. Kekeke, sok ngerti. Intinya sih aku menggunakan judul itu untuk menggambarkan kejadian "eksotis" di hidup ku.

Cerita perjodohan masih berlaku sampai sekarang ini, kalau orang bule bilangnya Blind Date, kalo anak muda bilangnya comblang-in, kalo aku menyebutnya Siti Nurbaya. Akhir-akhir ini entah kenapa aku sering di "jodohin" sama seseorang di mulai dari sehibat lebaran tahun 2007 yang lalu.

Hari itu minggu dan ada arisan di rumah Pakpuh-ku yang paling tua di Tanjung Duren. Acara itu sekalian acara syukuran Paklek Kono yang datang jauh-jauh dari Surabaya beserta keluarga. Aku sendiri tidak tahu syukuran untuk apa. Yang jelas hari itu hujan lebat dan jalur Busway di sekitar jalan panjang baru dimulai sehingga aku dan mba Lini - Novri - Kamila datang terlambat.

Tanpa di sangka-sangka ketika hari mulai sore Pakpuh kumemanggil, dia sedang duduk di kamar yang sedang sepi orang. Aku datang dengan cengangas-cengenges, dan dia langsung menyapa dan menanyakan sedikit tentang kuliahku.

Lalu di saat tak terduga dia menanyakan pertanyaan yang mungkin sering ditanyakan orang kepadaku. Kata Pakpus-ku "Ndo, kamu sudah punya pacar", aku ketawa-ketiwi sambil menjawab "Belum".

Kemudian muncul kalimat tidak terduga keluar dari mulut Pakpuh-ku : "Pakpuh punya saudara yang anak perempuannya sudah seumuran kamu". Dalam hatiku "Weits, aku di jodohin sama Pakpuh-ku, gawat nih" mengingat track record jodoh menjodoh Pakpuh-ku sering berhasil. Lalu ia berkata lagi "Kapan-kapan kamu main ke Tanjung Duren lagi, nanti kita bareng-bareng main ke sana"

Aku ketawa-ketiwi dalam hati, untung tidak ada bapakku waktu itu. Tapi entah kenapa kalau ada Bapak waktu itu pasti minggu besoknya akan ada acara datang kerumah saudara Pakpuh-ku itu. Pakpuh-ku juga sempat ilang kalau saudaranya kenal Bapak-ku dimana mereka semacam teman seperjuangan waktu zaman muda mereka.

Hari berlalu, bulan berlalu. Bapak datang dan pergi dari Padang, namun Pakpuh-ku tidak pernah menyinggung lagi. Tapi aku rasa kalau ada Bapak, pasti bapak-ku semacam punya pendapat biarin aja aku yang mencari sendiri walaupun alih-alih dia pasti mengikuti perkataan Pakpuh-ku. Tapi untung atau tidak untung itu tidak terjadi (setidaknya sampai saat ini).

 


The Comments

Write a comment

  • Required fields are marked with *. (do'oh)

Type your name here, but it not necessary, because I had anticipate your lazy hand.

Yes, you can leave it empty. It's not like that I'm going to write you an email. But if you do, I will display your Gravatar.

It's unnecessary to provide your blog url, but here it is. Use this format: http://www.dwaan.com.

You're encourage to write a subject. Well if not, I'll give some nasty and ugly subject to your comment.

You really have to write your comment below, it's required. I mean, you want to write a comment wont you?.

If you have trouble reading the code, click on the code itself to generate a new random code.

Sorry, I don't trust you are human. Please type those funky words to prove you are a human.

 

 

Comment
QgpOcPFGcviJMngQN
Fri August 26, 2011, 13:00:03
This is exactly what I was looking for. Thanks for wirting!