Your Login Details


OMG Sinetron

Pernah menonton sinetron di TV? Pasti pernah! Kalu di luar negri sinetron itu di namai Opera Soap, gak penting sih tapi mungkin ada yang belum pernah tahu. Aku tidak tahu sejarah kemunculan sinetron di Indonesia, tapi yang aku ingat sinetron yang pertama kali aku tonton (dan kuikuti sampai habis) adalah sinetron Siti Nurbaya, masih inget gak? Kalau gak salah dia muncul di awal tahun 90-an. Jaman dulu sinetron itu di tayangkan di TVRI (satu-satunya TV di Indonesia, RCTI masih pakai langganan).

Siti Nurbaya adalah sinetron yang apik, mengambil dari Novel STA (kaeknya) Marah Rusli. Walaupun intinya hanya cerita percintaan, tetapi ada pesan moral dan budaya yang tersirat (gila masih kecil aku udah tau beginian). Cerita cintanya tidak ece-ece.

Lalu ada muncul sinetron Si Doel Anak Sekolahan, senitron ini cukup booming dimana-mana mengingat pada jaman itu baru ada RCTI dan TVRI, jadinya kalau gak nonton TVRI ya berarti nonton RCTI. Sinetron ini muncul dipertengahan tahun 90-an dan berakhir di awal tahun 2000 sampai seri ke 4 yang di tayangkan Indosiar.



Si Doel, pada awalnya sineetron yang menarik mengenai kehidupan orang dan anak betawi modern yang bisa sekolah tinggi (pada zaman itu masih jarang sekali). Senetronnya juga membawa pesan moral dan budaya juga seperti Siti Nurbaya walau dengan pesan moral yang berbeda beda. Sedikit pertanyaan sebelum tahun 90-an orang Indonesia nonton apa yah? Namun sayangnnya seri terakhirnya lebih kemasalah percintaan saja.

Ke dua sinetron itu aku anggap sebagai pelopor sinetron Indonesia yang patut di contoh.  Menilik dari kedua buah sinetron itu aku berpaling ke sinetron zaman sekarang. Apa kah yang terjadi? Setiap aku memindahkan channel TV (khususnya di malam hari) ada sebersit kata yang keluar dari mulutku (kalo aku orang bule mungkin udah bilang OMG atau WTF). Perbedaan yang bisa aku gambarkan adalah langit dan dasar jurang. 

Aku jadi teringat sinetron Abad 21, sinetron ini adalah sinetron favorit di akhri tahun 90-an. Sinetron inilah yang mengawali sinetron ece-ece di Indonesia. Sinetron yang terlalu glamor dan bertabur bintang yang bergaya hidup borju dan hanya menceritakan cerita cinta yang cengeng. Hal ini di perparah dengan kemunculan sinetron Tersanjung yang selamat dari serangan bom nuklir hingga mencapai seri ke 6. Kedua sinetron itu di tayangkan di Indosiar.

Memang tidak semua sinetron pada zaman itu parah semua, aku ingat sebuah sinetron religi pertama di Indonesia yang diperakan Neno Warisman (lupa nama panjangnya) dan disiarkan di RCTI. Sinetron ini merupakan sinetron Ramadhan pertama dan satu-satu yang memiliki pesan moral dan budaya yang baik.  Sejak itu mulailah bemunculan sinetron yang berkedok sinetron Ramadhan tapi ceritanya tetap percintaan.

Pada awal dan pertengahan tahun 2000-an sinetron-sinetron yang bermutu mulai berkurang, satu-satunya yang masih bisa dibilang bermutu adalah Lorong Waktu dan Kiamat Sudah Dekat, tapi entahlah karena aku jarang  menontonnya (gara-gara sinetron picisan itu).

Akhir-akhir ini para pembuat sinetron mulai kehabisan ide, di mulai dengan maraknya sietron berbau mistik dan terkadang bekedok agama Islam pada awal dan pertangahan tahun 2000. Sebut saja  Babi Ngepet, Kolor Ijo, dkk merupakan salah satu judul sinetronnya, untungnya sinetronnya tidak berseri. Stasiun TV ikutan latah dengan menayangkan sinetron yang topiknya sama.

Nah, kalau kamu kira sinetron mistis itu sudah parah, selamat datang di akhir tahun 2000-an. Jika aku adalah seorang produser sinetron, makan pada zaman inilah aman dimana membuat sinetron itu sangat mudah karena ceritanya sangat generik dan mudah di tebak.

Jika kamu punya suatu nama perempuan yang terpikir di pikiranmu, kamu bisa kok membuat sinetron. Maksud Loh? Gini, misalkan aku kepikiran nama Emi, aku bisa membuat sinetron dengan judul Cinta Emi (baca cintami), yang nama pemeran utamanya Emi. Kalau susah menembahkan kata di depan nama di depan nama pemeran utama untuk jadi judul, kamu tinggal pakai saja Emi. Ceritanya gak perlu susah-susah karena sudah ada garis besarnya. Pemeran utamanya harus orang yang menderita entah itu buta, miskin, cacat atau lainnya lalu ditambah cowo kaya dan sombong. Sudah, dari situ tinggal "di kembangin alur ceritanya", mau pakai ibut tiri silahkan, mau pakai paman jahat silahkan, mau pakai ibu cowo-nya jahat juga boleh. Mudahkan!

Ah cukup sudah. Tapi sebagai penetralisir, sebenarnya masih ada sinetron bermutu yang tertutup oleh gemerlap sientron generik itu.  Ada sinetron seperti Bajaj Bajuri dll (OMG, gak kepikiran yang lainnya). Dulu juga sempat ada sinetron yang diperankan Dian Sastro, yang bercerita tentang wartawan (aku lupa judulnya) yang cukup bagus (walau cerita tentang profesi wartawan rada hambar).

Ah, Indonesia!


The Comments

Write a comment

  • Required fields are marked with *. (do'oh)

Type your name here, but it not necessary, because I had anticipate your lazy hand.

Yes, you can leave it empty. It's not like that I'm going to write you an email. But if you do, I will display your Gravatar.

It's unnecessary to provide your blog url, but here it is. Use this format: http://www.dwaan.com.

You're encourage to write a subject. Well if not, I'll give some nasty and ugly subject to your comment.

You really have to write your comment below, it's required. I mean, you want to write a comment wont you?.

If you have trouble reading the code, click on the code itself to generate a new random code.

Sorry, I don't trust you are human. Please type those funky words to prove you are a human.