Your Login Details


Bento, in memory (March, 17 1994 - June, 11 2007)

 Kemarin adalah hari yang sedih, setidaknya buat diriku sendiri. Ceritanya begini, pagi hari ketika aku masih agak mengantuk di dalam kamarku, tiba-tiba mba' Lini masuk dan mengabarkan kalau Bento telah meninggal. Ini adalah hari yang selalu ku mimpikan, untuk tahun ini setidaknya sudah lima kali aku bermimpi tentang kematian Bento. Saat aku mendengar kabar itu, perasaanku jadi terasa hampa, tidak sedih sama sekali.

Kemarin sore untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir aku mengeluarkan Bento dari kandangnya karena kasihan melihat sakit sesak napasnya yang makin parah. Sakitnya sudah sekitar satu bulan yang lalu, awalnya cuman bersin-bersin tapi hari belakangan ini menjadi sesak nafas.

Kemarin aku mencoba menyupininnya dengan obat dia, kemarin-kemarin hanya di taruh di tempat minumnya dan dia karena sesak napas serignnya tiduran di bawah kandang dan meminum dari tempat mandinya.

sehabis ku beri obat di sempat makan dan makannya masih lahap. Aku sempat mengelus-elusnya. Namun Allah lebih memperhatikannya dari pada aku.

Sehabis mendengar kabar itu aku langsung bergesa cuci muka dan wudhu, lalu secepatnya menggali kuburannya. Aku ingat itu masih jam setengah enam pagi. Beberapa menit kemudian kuburannya selesai dan aku memasukkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Badannya sudah kaku dan dingin, ada cairan keluar dari mulut dan matanya, menandakan dia meninggalnya sudah beberapa jam yang lalu. Hari itu juga aku langsung menguburkannya. Secara tidak sengaja aku membuat kuburannya sehingga dia bisa menatap ke arah kiblat.

Kuburannya terletak di bawah pohon rambutan, kalau pagi ada matahari yang bersinar ke arah kuburannya dan kalau siang sinar matahari terhalang oleh daun rambutannya.

Seharian itu aku ingin menangis, tapi tidak bisa. Jadilah seharian itu aku merasa hampa. Aku juga masih teriang-iang suara bersinnya Bento, dan bayangan kandang di halaman belakang. Pagi ini aku masih mengingatnya ketika bangun. Dia adalah satu-satunya binatang kesayanganku.

Bento adalah burung beo Flores, waktu itu kami beli ketika kami tinggal di kupang, NTT. Di masih baru menentas, masih kecil. Dulu Bento mempunya saudara bernama Memo, tapi Memo sudah bertahun-tahun yang lalu di ambil saudara dan hilang di curi orang.

Sewaktu kecil kami menyuapinnya dengan nasi dan cabe, lucu sekali. Terkadang mereka menelan sendok kalau di suapin dengan sendok. Kami membawa khusus mereka dari Kupang ke Jakarta. Ada surat izinnya malahan, diurus sewaktu di airport menuju ke Jakarta. Itu sudah lama sekali.

Semenjak Memo tidak ada Bento hidup sendiri di kandangnnya, aku sbenarnya merasa sedih. Pernah terpikir untuk membelikannya kandang yang lebih besar, tapi tidak kesampaian hingga akhir hidupnya.

Semua binatang yang meninggal akan pergi ke surga, setidaknya itu yang saya tahu. Allah tidak memberikan pada mereka akal sehingga mereka tidak mengenal benar dan salah, sebab itulah mereka tidak mengnal dosa. Semoga tempat Bento di alam baka lebih baik dari pada di dunia ini.


The Comments

Write a comment

  • Required fields are marked with *. (do'oh)

Type your name here, but it not necessary, because I had anticipate your lazy hand.

Yes, you can leave it empty. It's not like that I'm going to write you an email. But if you do, I will display your Gravatar.

It's unnecessary to provide your blog url, but here it is. Use this format: http://www.dwaan.com.

You're encourage to write a subject. Well if not, I'll give some nasty and ugly subject to your comment.

You really have to write your comment below, it's required. I mean, you want to write a comment wont you?.

If you have trouble reading the code, click on the code itself to generate a new random code.

Sorry, I don't trust you are human. Please type those funky words to prove you are a human.