Your Login Details


Beda taksi Blue Bird dan taksi bukan Blue Bird.

1. Taksi Blue bird

Latar belakang suasana: Suatu hari pulang dari kantor, udah rada malem jadi gak pengen naik bus. Pergi ke depan STC nunggu taksi.

Tak lama kemudian muncul taksi blue bird. 

Pembicaraan: 

gw : (nunjuk tangan ke depan)

tukang taksi : (berhentiin taksinya)

gw : (buka pintu dan masuk)

tukang taksi : Selamat Malem Pak (agak ramah). Mau kemana?

gw : (sambil make sbuk pengaman) Ke Srengseng Kembangan pak!

tukang taksi : mao lewat mana?

gw : Itu anu, lewat .... (lemot kalo di suruh inget nama jalan) .... Simprug pak.

Tukang taksi : (terdiam dan mengendarai taksi dengan tenang, mengikuti belokan yang gw perintahkan)

beberapa detik kemudian.

tukang taksi : (memberhentikan di depan jalan masuk rumah)

terjadilah transaksi pembayaran yang menyenangkan.

gw : (sambil turun dari taksi) "Terima kasih pak"

 

2. Taksi bukan Blue Bird.

Latar belakang suasana:

Hari telah petang, matahari pun mulai mengantuk.

Gw udah rada kemaleman untuk naik angkot, jadinya memilih naik taksi.

Nunggu depan STC, muncullah taksi bukan blue bird

Pembicaraan:

gw : (nunjuk tangan ke depan)

tukang taksi : (sekuat tenaga memberhentikan taksinya)

gw : (masuk ke dalam taksi pake sabuk pengaman)

tukang taksi : (mengendarai taksinya dengan benar)

gw : "Sore pak (mencoba untuk ramah), ke Srengseng Kembangan ya pak!"

tukang taksi : "Oh, Srengseng Kebon Jeruk"

gw: (dalam hati: Sok tau)

tukang taksi : "Mao lewat mana Pak?"

gw : "Lewat .... (lemot lagi) .... itu Simprug"

tukang taksi : "lewat depan aja ya pak di situ macet."

gw : "oh iya yah" (dalam hati: padahal biasanya macet sebentar kan lewat jalan dalem) "Oh iya bisa lewat patal senayan ntar."

Tukang taksi : (mengemudi dengan baik, keteika belokan yang mustinya ke Patal Senayan, dia lurus aja)

gw : (dalam hati: Kok lurus aja bukannya mo lewat mana lagi, jangan2 lewat depan MPR)

tukang taksi : (menyopir dengan santai melewati semanggi dan melewati depan JHCC dan menuju depan MPR)

gw : (dalam hati: "loh kok gak belok lagi". Ngedumel sendiri dalam hati)

tukang taksi : (mengendarai melewati depan Taman Ria Senayan) "Loh kok macet ya"

gw : (Dalam hati : "Lah disini mah emang tempatnya macet")

tukang taksi : (masih mengendarai dengan tenang)

gw : (menunggui macet dengan sebel)

Beberapa ratus tahun kemudian

gw : (dalam hati: "Akhirnya gak macet")

tukang taksi : (belok di perempatan sebelum slipi)

gw : (dalam hati: "Hmm")

tukang taksi : (mengendarai melalui patal senayan)

gw : (dalam hati : "Tukang taksi kurang ...... (di sensor)"

tukang taksi : (mengendari melalui permata hijau)

gw : (ngedumel : "ini kan sama aja kaek ...")

Beberapa kemacetan kemudian akhirnya nyampe di rumah dengan argo taksi lebih mahal 2 kali lipat dari pada kalo pake jalur gw.

gw : (menyodorkan duit 50 rebuan)

tukang taksi : (mencoba mencari kembalian)

gw : (menerima kembalian dengan agak sewot, turun tanpa bilang terima kasih)



 


The Comments

Write a comment

  • Required fields are marked with *. (do'oh)

Type your name here, but it not necessary, because I had anticipate your lazy hand.

Yes, you can leave it empty. It's not like that I'm going to write you an email. But if you do, I will display your Gravatar.

It's unnecessary to provide your blog url, but here it is. Use this format: http://www.dwaan.com.

You're encourage to write a subject. Well if not, I'll give some nasty and ugly subject to your comment.

You really have to write your comment below, it's required. I mean, you want to write a comment wont you?.

If you have trouble reading the code, click on the code itself to generate a new random code.

Sorry, I don't trust you are human. Please type those funky words to prove you are a human.