Your Login Details


Blogosphare

Plurk vs Twitter vs Facebook Status vs Google Buzz

By DwAN on 19-Feb-10 23:36. Comments (15)
  Plurk Twitter Facebook Status
Google Buzz
Microblogging Yes Yes Sort Of Sort Of
         
Status update
Yes
Yes
Yes
Yes
Status update from my friend that I need Yes No No No
Status update from famous peaople that I need
Sort Of Yes Yes No
         
Rewarding system
Yes
No
No No
Emoticons Yes
No
No No
Timeline Yes Sort Of Sort Of Sort Of
Themeing system Yes Yes No No
         
Friends List Yes Yes Yes Yes
Fans List Yes Yes No No
         
I want to be famous so I join it No Yes No No
!(I don't know why I join it) a.k.a I know why I join it
Yes Yes Yes
No
All my friends and all the cool people I (wish to) know used it Yes Yes Yes No
I voluntary join it Yes Yes No No
I join it so I can write what ever I want Yes Yes Yes Yes
         
Comment on someone post Yes Sort Of Yes Yes
Comments are threaded so I  don't litter someone else page with something they ddin't need Yes No Yes Yes
Alay Free Sort Of No No Yes
         
I can silently not recieve someone post eventhough he/she is on my friend list Yes No No No
Need special attentions Yes No No No
Private update Yes No No No
         
In the end, I wish everyone use this instade other services Yes No No No
         
I'm using it
Yes Yes
Yes
Yes

 

 

Anomality in Life

By DwAN on 12-Feb-10 18:02. Comments (7)

Anomality in Life. Anomality - it's that even a word :D. Jadi ceritanya suatu hari aku sedang berbincang dengan sobatku.

Sobatku: "Don, seneng yah ngeliat teman-teman kita udah pada gendut-gendut semua"
Aku: "Iya, tapi gw masih kurus juga"
Sobatku: "Tapi kan lu dulu sempet naek 5 kilo"
Aku: "Iya, tapi itu gw sengajain"
Sobatku: "Loh, kok gitu"
.... (berlanjut ke pembicaraan gak penting lainnya)

Semenjak saat itu aku jadi berfikir, kenapa begitu yah. Aku yang memang punya keturunan akan kurus selalu selalu merasa ingin menjadi agak gemuk, segala upaya telah aku curahkan (berlebihan) namun penampakanku tetap sama. Sedangkan teman-temanku yang lainnya yang sudah nampak gendut sudah melakukan berbagai macam cara dan upaya untuk menurunkan berat mereka, namun mereka tetap gendut-gendut juga.

Dari situ aku berfikir lagi, apakah semua orang seperti itu? Dan ternyata selain itu aku mendapatkan hal-hal semacam itu, yang akhirnya aku buat daftarnya di post-an ini. Aku sebut "The Anomality in Life":

 

1. Gendut vs. Kurus

Ini hal yang umum, yang sering orang-orang keluhkan, dimana yang gendut ingin kurus dan yang kurus ingin gemuk. Coba saja kita tanyakan kepada kebanyakan orang gendut atau kurus, pasti mereka memiliki keinignan yang tadi aku sebutkan.

 

2. Kulit Putih vs. Kulit Gelap

Ada hal yang umum bagi kaum perempuan di daerah Asia Tenggara untuk memiliki kulit yang putih, berbagai macam kosmetik dan perawatan mereka gunakan untuk membuat kulit mereka menjadi putih, sedangkan orang-orang berkulit putih di Amerika atau Eropa berlomba-lomba membuat kulitnya menjadi Tan (aka gelap kecoklatan). Suatu hal yang anomali sekali.

 

3. Tinggi vs Pendek

Ini hal yang umum, orang pendek pasti ingin membuat dirinya lebih tinggi, namun ada juga orang yang tinggi juga menginginkan lebih pendek karena percaya atau tidak orang tinggi itu sama mindernya dengan orang pendek kalau mereka berada di kumpulan orang-orang yang lebih pendek atau lebih tinggi dari mereka.

 

Sebenarnya masih banyak ke anomalian lainnya yang kalau benar-benar aku pikirkan bisa bikin list berpuluh-puluh baris. Tapi dari tiga contoh diatas semestinya kita akan mendapatkan gambaran dari apa yang ingin aku ceritakan.

Selanjutnya adalah mencari penyebab kenapa orang-orang seperti ini. Hipotesa awalku karena tayangan di TV atau Film yang selalu menampilkan sosok-sosok tubuh ideal dari yang muncul di layar. Para orang-orang yang muncul di layar tersebut adalah orang-orang yang memiliki bentuk badan yang ideal, yang laki-laki selalu tampil dengan penampilan yang maco dan tinggi sedangkan para perempuannya selalu ditampilkan dengan tampilan langsing dan berkulit putih. Apakah hal tersebut dapat dijadikan alasam ke anomalian ini.

Hipotesa kedua ku adalah budaya dan pujian, kalo di budaya timur khusunya di negara kita, orang yang putih pasti akan selalu akan dipuji, yang kurus dan tinggi juga ikutan di puji. Lalu kalau di budaya barat, orang-orang bule berkulit coklat gelap pasti akan dipuji karena pasti habis berlibur ke pantai atau semacamnya.

Dari kedua hipotesa tersebut akhirnya aku mengambil kesimpulan sendiri, bahwa rata-rata orang memang tidak pernah puas, selalu melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, lalu semuanya berujung kepada semua orang memang senang di puji. Ahhh ... pada akhirnya tulisan ini sendiri sebenarnya introspeksi diriku sendiri yang memang selama ini dapat dibilang sebagai orang-orang tersebut, orang-orang yang tidak pernah puas dengan diri sendiri dan seseorang yang selalu ingin dipuji.

Ada tambahan mungkin dari teman-teman?

A Thought About Digital and Traditional Distribution

By DwAN on 04-Feb-10 18:54. Comments (1)

Digital Vs. Traditional Distribution. Ini hanya sekedar pemikiran sederhanaku, data tidak didukung oleh bukti nyata, jadi sekali lagi artikel ini hanya opiniku semata. Aku bukan profesional analyst dan bukan pemain dalam dunia tersebut, namun kenapa aku menulis artikel ini? Karena memang lagi ingin dan menyangkut proyek rahasia yang sedang aku tekuni (headspin). Dan sebagai peringatan awal, tulisannya ku ini panjang dan tidak berstruktur, sering lompat-lompat dan tidak memiliki arti yang jelas. Sudahku peringatkan loh :D.

Sebelum membahas tentang topik di atas, mari kita menilik sebentar tentang sejarah Digital Distribution. Sepengetahuan aku, Digital Distribution mulai muncul semenjak kepopulean iPod dan munculnya iTunes Music Store yang di besut oleh Apple Corp. Kalau tidak salah tahun 2003-an adalah dimulainya era Digital Distribution. Pada awalnya perkembangan Digital Distribution, produk yang di bawa hanya Music Digital mengingat kecepatan koneksi internet pada zaman tersebut belum secepat koneksi sekarang. Hal yang logis jika Digital Distribution dimulai dari file-file kecil - namely - file-file musik yang rata-ratanya hanya 5 sampai 6 Mega Bytes.

Digital Distribution pada kancah industri music pada saat ini praktis hampir menggeser Traditional Distribution berupa CD dan Kaset hingga saat ini. Namun apakah tiba-tiba semua orang pindah ke Digital Distribution baik para label dan penggemar musik, jawabannya belum. Masih banyak penggemar musik yang lebih memilih Traditional Distribution karena kepemilikan yang nyata dari produk yang dia beli (Ada kotak CD dan Booklet + CD Art-nya). Namun seiring perkembangannya diperkenalkanlah Digital Booklet yang sama menariknya dengan Booklet pada CD.

Walau industri musik belum sepenuhnya ingin berpaling kepada Digital Distribution namun melihat dari hasil penjualan album artis-artis sekarang yang sudah tidak sebanyak zaman dahulu mau tidak mau mereka harus ikut serta didalamnya. Ini tidak hanya terjadi di negara maju saja, di negara kita sendiri ini pun terjadi, namun perbedaannya Digital Distribution di Indonesia berbentuk Ring Back Tone bukan berbentuk Digital Music store a.l.a iTunes Music Store.

Yang selalu menjadi pertanyaanku, apakah memang sudah saatnya industri musik pindah seratus persen ke Digital Distribution? Dilihat dari perkembangannya akhir-akhir ini, industri musik memang sudah seharusnya mulai condong ke arah sana, lihat saja label-label besar di Indonesia sekarang mula tidak gencar dengan Traditional Distributionnya, makin jarang kita lihat iklan untuk menyuruh kita beli Kaset ato CD, malah lebih sering mengiklankan RBT. Ditambah lagi label-label di Indonesia sekarang mulai bergeser dari distributor musik menjadi distributor artis a.k.a. management artis.

Lalu adakah keuntungan dari Digital Distribution tersebut? Pikiran awal kita pasti sedikit CD dan Kaset maka makin sedikit produksi kertas dan plastik untuk produk tersebut, sehingga Digital Distribution lebih ramah lingkungan. Et, jangan lupa, di balik Digital Distribution ada mesin yang berjalan 24 jam dibelakang untuk menyokokng kegiatannya, jadinya tidak tepat kalau dibilang Digital Distribution itu lebih ramah lingkungan.

Kalau aku lebih berfikir ke arah siapa saja jadi bisa mendistribusikan karyanya ke semua orang tanpa melalui pihak Label yang beribet-ribet, para artis tersebut bisa bebas berekspresi tanpa kekangan pihak label yang khawatir kalau karya artisnya tidak sesuai pasaran. Kalau tidak percaya, semisal aku punya 1 lagu yang aku buat aku bisa langsung mempublisnya lewat Internet. Kalau aku memang tidak mencari keuntungan, aku bisa menguploadnya ke last.fm dan memberikan full download buat siapa saja. Cuman kalau mau jualan dikit aku bisa langsung mensubmit ke Online Music Store seperti iTunes Music Store. Tapi apa mungkin bisa? Coba googling Equinox DMD.

Andy Warhol pernah berkata "In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." Mungkin ada benarnya dia.

Enough about Music Industry, how about Movie or Book Industries? Both of them have equal opportunities in Digital Distribution. So true, aku setuju dengan pernyataan ini. Di Movie Industri, kalau mau dibilang aku aja hampir tidak pernah membeli DVD secara fisik, semuanya aku tonton via Internet atau aku sedot dari Internet, dan kalau lagi ada niat ya pergi ke bioskop biar lebih puas.

Digital Distribution untuk Movie Industri memang semenjak awal memang tidak terlalu signifikan, karena orang-orang masih lebih memilih pergi nonton ke Bioskop. Namun perlu di cermati juga bahwa Traditional versus Digital Distribution di Dunia Per-movie-an bisa dibilang tidak saling mematikan, lihat saja masih banyak orang nonton ke Bioskop (iya, baru inget kalau ternyata Bioskop itu bisa di bilang Traditional Distribution).

Beda dengan Music, hambatan terbesar dari Digital Distribution terbentur pada kecepatan internet yang masih kurang cepat untuk mengunduh film-film yang besarnya bisa lebih dari 1 Giga Bytes. Kalau di negara maju kendala ini hampir tidak ada mengingat kecepatan internet di sana yang selalu bikin ngiri kita orang Indonesia. Namun tidak menutup kemungkinan juga, walau di dukung koneksi internet yang cepat, orang-orang di sana masih lebih suka menonton ke bioskop, lihat saja film terlaris sepanjang masa muncul di tahun sekarang (baca: Avatar).

Orang juga masih lebih memilih ke bioskop karena tata suara yang lebih dan layarnya lebih besar ketimbang kalau nonton di rumah sendiri. Kalau pendapatku Digital Distribution di dunia Per-movie-an masih belum banget.

Nah dari Movie menyambung ke TV, tidak dapat dipungkiri juga bahwa Digital Distribution di dunia per TV-an mulai menggeliat juga. Lihat saja mulai bermunculan layanan TV on demand seperti Hulu atau IP TV - layanan TV via internet. Permasalahannya adalah orang lebih suka nonton acara TV di TV (do'oh).

Satu-satunya alasan orang ingin berpindah ke Digital Distribution di dunia per-TV-an karena mereka ingin melihat tontonan kesukaan mereka kapan saja tanpa harus mengikuti jadwal siarannya. Tapi kalau aku prediksi, pada dunia pertelevisian memang Digital dan Traditional Distributionnya akan selalu jalan beriringan, mengingat masih kuatnya budaya menonton TV.

Selanjutnya mari kita bergeser dari industri Movie dan TV yang besar ke industri Movie dan TV yang lebih kecil a.k.a para pemain independent di dunia tersebut. Sama halnya dengan industri music, para indie-ers di dunia ini dimudahkan dalam pemasaran produknya. Semua orang tiba-tiba bisa mempublish karyanya ke khalayak ramai tanpa halangan.

Dan jangan biarkan aku menulis lebih lanjut mengenai Digital Distribution di dunia percetakan dan perbukuan. Walaupun pada industri ini lebih dominan Digital Distribution dibandingkan Traditional Distribution. Apa lagi dunia game yang sudah mengarah ke arah sana dengan Downloadable Content-nya serta Game On Demand.

Kesimpulannya yang ingin aku ambil di sini sebenarnya, Digital Distribution baru mengalami kesuksesan pada industri musik dan buku/percetakan. Untuk industri lain seperti Movie, TV dan Games perlu waktu yang masih lama untuk Digital Distribution menggeser Tradisional Distribution. Saranku (kepada siapa :P) adalah: Digital Distribution memang satu-satunya Distribution untuk masa depan, bagi pihak-pihak yang bersinggungan dengan Digital Distribution sebaiknya bersiap-siap dari sekarang agar tidak tertinggal.

Sebagai tambahan, dengan Digital Distribution tiba-tiba semua orang bisa mempublikasi karyanya ke khalayak ramai, hanya saja nantinya akan terbentur ke hal promosi yang merupakan bahasan yang beda lagi. Hal ini akan memacu para pelaku independent yang ada di setiap dunia tersebut.

Di akhir kata, sekali lagi maafkan tulisanku yang rada semrawut dan tidak memiliki struktur ini, ingin sekali menuangkan semua pemikiranku dalam tulisan ini, namun karena keterbatasan waktu (a.k.a males) jadi aku sudahi saja tulisan. Mungkin dilain waktu akan aku edit lagi sehingga menjadi tulisan yang lebih bermutu. Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah 2 paragraf terakhir sebelum ini, tapi aku jelimetkan dengan tulisan ngawur nan ngaco :D

 

Kerokan - Something You Need to Know

By DwAN on 21-Jan-10 18:19. Comments (6)

Kerokan - Something You Need to Know. Kerokan a.k.a. Karokean adalah salah satu cara menghibur diri dan pelepas sutress, apa lagi kalau karokeannya bareng teman-teman yang suka gokil sendiri. Walaupun gak sering, aku juga tidak jarang ikut karokean ntah karena diajak teman atau karena nraktir teman. Aku jadi kepingin nulis post-an ini karena baru-baru ini aku karokean bersama teman-temanku yang belom pernah karokean bareng, tapi ntah mengapa aku jadi banci karoke-nya dan heboh sendiri. Berikut hal-hal yang sering aku perhatikan waktu karokean.

 

1. Karokean itu ajang pamer suara.

Dalam karokean terkadang para teman-temanku yang memiliki suaru yang bagus akan bernyanyi segenap jiwa memamerkan suaranya yang merdu. Ini nggak banget, malah jadi kaek denger konser jatoh-jatohnya. Nah teman kaek gini nih yang suka bikin minder temen lainnya yang tidak bersuara merdua. So kalo mau pamer suara sebisa mungkin jangan nyanyi sendiri, coba ditemani dengan teman yang bisa konyol dengan lagu yang umum bukan lagu kesukaan dengan nada naik turun bikin orang lain minder.

 

2. Karokean itu ajang konyol-konyolan.

Hampir setiap karokean pasti ada aja yang milih lagu konyol untuk dinyanyikan secara bersama, mulai dari lagu SMS sampai lagu Mabok Janda, dan kalau sudah begini mau gak mau suasana akan menjadi sangat meriah dan riuh, jadi perlu di catat kalau karokean mau seru jangan lupa milih lagu yang caur tapi disukai semua orang. Konyol-konyolan juga tidak sebatas menyanyikan lagu konyol, tapi berjoget konyol atau bergaya-gaya konyol juga seru.

 

3. Karokean itu ajang teriak-teriakan.

Ya masak karokean mau bisik-bisikan, walaupun aku pernah melewati ruang karoke yang semacam sepi walaupun ada orangnnya. Karokean kalo belom teriak-teriakan belom lengkap, apa lagi kalo teriakannya sampai keluar dan terdengar dari luar ruangan padahal ruangannya udah kedap suara terus tembus ke ruang sebelah, ini baru seru karena bikin orang ruang sebelah keki sama kehebohan kita.

 

4. Karokean itu ajang bernostalgila dengan lagu jadul.

Pasti saat karokean aku akan memilih lagu Frank Sinatra - My Way, atau kalau teman-temanku ada yang milih lagu semacan Nat King Cole - What A Wonderful Day. Lagu dengan suara bass dan sangat rendah atau lagu-lagu dengan suara serak-serak dan bernada slow. Gak mungkin karokean kalo nggak memilih tembang-tembangan kenangan. 

 

5. Karokean itu ajang nyanyi bareng.

Namanya juga karokean, masak cuman satu orang yang nyanyi, itu mah gak seru. Jadi sebisa mungkin pilih lagu yang disukai semua orang biar gak garing dengerin teman lain nyanyi. Suasana akan jadi sepi kalau cuman satu orang yang nyanyi, apa lagi kalo karokeannya lebih dari 5 orang.

 

6. Karokean itu ajang ngerusak lagu orang.

Merusak lagu orang dengan menyanyikan dengan suara rendah atau suara ketinggian atau bahkan suara yang sengaja di bikin fals, pasti akan selalu ada di saat karokean. Kalo nggak ada berarti anda telah datang ke acara konser yang berarti anda salah tempat.

 

7. Karokean itu ajang mempermalukan diri tanpa perlu jadi malu.

Tak sering aku dan teman-teman ku bertingkah konyol atau sengaja benyanyi dengan nada konyol sehingga memalukan diri sendiri, namun karena ini karoekan tidak perlu takut karena ini sudah hal wajar, yang nggak wajar adalah ikutan karokean tapi cuman diem ajah. Kalau ngeliat poin ke 2, mempermalukan diri sudah pasti akan didapatkan kalau mempraktikkan poin ke 2 tadi. Sebagai tambahan orang akan memaklumi anda saat anda berbuat konyol di karokean.

 

8. Karokean itu ajang menyanyikan lagu kesukaan.

Walau ke kita asik tapi yang ini nih sebenarnya yang paling gak asik, karena lagu kesukaan semua orang berbeda-beda, ada yang suka rock ato pop ato disko, ada yang suka penyanyi itu ato penyanyi ini ato grup itu dll. Biar rame coba jika temanmu menyanyikan lagu kesuakaannya dan tidak ada teman yang lain ikutan nyanyi, kamu coba ikutan dengan suara ke dua atau bernyanyi sepotong-sepotong, karena nyanyi sendirian di karoke itu gak seru banget. Tujuannya biar selalu rame, cuman perhatikan juga kalau ada temanmu yang emang mau nyanyi sendiri dan tidak ingin orang lain ikutan, kalo udah gini mending kita menata list lagunya dengan memasukkan lagu-lagu konyol lainnya.

 

Sip dah, poin-poin diatas bisa juga dijadiin cara-cara menhindari karokean jadi boring atau cara-cara bikin karokean biar lebih seru. Aku, walau gak memiliki suara yang bagus dan terkadang maksa, suka mempraktikkan hal-hal diatas biar meramaikan suasana, walau kebanyakan aku diam ditempat dan tidak bertingkah konyol tapi aku sering bernyanyi dengan suara konyol, atau suara maksa. Kalau udah begitu suasana karokean bisa jadi meriah.

Nah, jika kita mempraktikkan poin-poin di atas sudah pasti anda akan menguasai mik a.k.a. mik akan selalu di tangan anda, anda gak perlu menyanyi lagu kesukaan anda tapi dengan menyanyikan lagu-lagu teman anda dan lagu-lagu anda akan jadi banci karoke (hehehe). Tambahan tips juga, karokean itu idealnya dilakukan 3 sampai 5 orang, kalo bedua itu mah pacaran jadinya, kalo sendiri itu freak, kalo lebih dari 5 orang pasti keramean dan pasti gak puas-puas walau udah ngambil 5 jam semisal :P.

 

Showing 1 - 5 of 136 Articles
OMG, gilak udah banyak juga yach hasil postinganku, kira-kira bisa jadi buku gak?