Your Login Details


Blogosphare

Songs from the Millenium

By DwAN on 21-Feb-10 09:41. Comments (5)

Ide awalnya adalah mengumpulkan lagu-lagu dari tahun 1999-2001 yang masih terngiang-ngiang dalam pikiranku, dimana lagu tersebut memang lagu yang memorable banget (mau tulis dalam hidupku, tapi ntar jadi berlebihan). Namun dalam proses pengumpulannya aku perluas dari tahun 1998-2003, menjadi renggang waktu 5 tahun. 

Alasan aku menulis ini adalah karena sekarang sudah tahun 2010 dan Millenium itu udah 10 tahun yang lalu, tidak menyangka waktu berjalan dengan begitu saja. Aku teringat pada waktu itu (tahun 2000), lagu-lagu dari tahun 1990 sudah terasa lama, semisal lagu NKOTB (ingetnya cuman NKOTB) kalau di dengarkan aku waktu itu, pasti langsung ku bilang jaduls abiez. Tapi entah kenapa lagu2 dari tahun 2000 itu tidak terasa jadul walau aku dengarkan di tahun 2010 ini.

Berikut daftar lagu dari jaman tersebut yang samapai saat ini masing terngiang-ngiang dalam pikiranku (ditulis tanpa ada urutan).

 

1. Robbie Williams - No Regrets

Lagu ini berasal dari tahun 1998, 12 tahun yang lalu. Lagu yang pada awalnya aku benci, karena penyanyinya (yang hingga saat ini aku masih benci kalo ngeliat penyanyinya - aku benci mungkin karena gayanya yang smug). Tapi karena aku terbuka soal musik :P, walau penyanyinya aku benci tapi lagunya tetep aku suka. Aku kira ini hanya lagu cinta biasa, tapi setelah tahu-mengetahuinya ternyata ini lagu tentang dia dan boyband Take That, seperti kita tahu dia adalah mantan anggota boyband tersebut, dan dalam lagu ini menceritakan alasan kenapa dia keluar dari boyband tersebut.

 

2. Aqua - Turn Back Time

Ini lagu slow satu-satunya dalam album pertamanya Aqua yang berjudul Aquarium. Albumnnya sendiri rilis tahun 1996-an kalau tidak salah. Lagu ini lagu terakhir dari album tersebut yang dibuatkan video klipnya (dengan total 7 video klip dalam satu album tersebut). Aku tidak tahu cerita dibalik lagu ini tapi lagu ini sedih banget sehingga jadi membekas di pikiranku. Video klipnya sendiri berbeda dari video klip Aqua sebelumnya yang bersifat kartun dan humor dimana dalam video klip ini lebih menawarkan suasana sendu. Lagu ini sendiri sering membuat aku berintrospeksi diri akan kesalahanku yang telah aku lakukan di waktu yang telah lampau.

 

3. Nada Surf - Inside of Love

Lagu ini berasal dari tahun 2003, dimana terdapat dalam album mereka yang berjudul Let Go dan album komilasi (yang aku lupa judulnya) yang aku miliki. Lagunya sendiri cukup sedih, semacam menceritakan orang yang terbuang (atau semacamnya). Aku kalau mau tiba2 merasa sedih dan sendu bisa langsung menyanyikan lagu ini dan tiba2 menjadi sedih dan sendu, sebegitunya karena lagu ini entah kenapa semacam menceritakan keadaanku pada waktu itu :D.

 

4. T.A.T.U - Not Gonna Get Us

Lagu energic ini muncul pada tahun 2003, dan langsung terngiang -ngiang dalam pikiranku. Lagunya sangat simpel sehingga ketika pertama kali aku mendengarnya langsung terkesima (berlebihan). Aku tidak tahu cerita di balik lagu ini namun aku selalu menganggap kalo lagu ini menceritakan tentang perlarian seperti dalam video klipnya.

 

5. Sugababes - New Year

Satu-satunya Girlband kesukaanku, yang sekarang sayangnnya walau belom bubar semua anggotanya sudah digantikan, sedangkan anggota pertamanya sudah keluar semua. Lagu ini berasal dari tahun 2000. Lagu yang mereka tulis sendiri padahal mereka baru berumur 15 tahunan waktu itu (gila masih muda ajah, sekarang sih udah tua). Lagu dari album pertama mereka yang sebenarnya ada satu lagi yang juga bikin terngiang-ngiang (di tulis di nomer selanjutnya). Lagunya sendiri lagu cinta biasa (sepertinya) menganang cerita masa lalu (sepertinya), tapi aku suka sekali karena nada dan musik dari lagunya yang tidak lazim (off beat - sepertinya). 

 

6. Haven - Say Something

Lagu yang muncul di tahun 2002, dimana video klipnya suka tayang di MTV pada waktu tengah malam. Sangking sukanya sama lagu ini aku beli album band ini, yang ternyata semua lagunya bernuansa sedih dan gloomy seperti lagu ini. Lagunya sendiri sepertinya lagu cinta tapi bercerita tentang kebohongan, lagu cinta yang tidak lazim kalau kata ku.

 

7. Sugababes - Soul Sound

Aku suka musik dari lagu ini, begitu menenangkan, liriknya juga. Dan mereka menyanyinya dibawa santai. Muncul tak lama setelah lagu New Year mereka (2001 kalau tidak salah, atau New Year duluan?). Sampai sekarang aku masih suka sekali meng-humming ini lagu. Padahal lagunya sederhana banget, nggak catchy-catchy abies. Tapi dari situlah aku jadi sering mendendangkannya. Seandainya aku punya lagu beserta albumnya Sugababes yang ini.

 

8. Dove - Pounding

Tidak banyak yang tau band ini, aku juga gak tau band ini kalau tidak karena lagu ini. Lagu ini muncul tahun 2002, begitu dengar aku langsung terkesima, lanjut kata karena bandnya jarang di kenal sehingga lagunya jarang diputar, jadi semacam penasaran, walhasil aku jadi sering banget nge-humming bagian chorusnya.

Cukup sekian terima kasih, artikel ini aku ambil dari playlist Youtubeku ini. Dapat dilihat kalau ternyata aku selalu lebih menyukai artis-artis dari Eropa terutama Inggris (Gak penting :D). Akhir kata, kalau teman-teman punya lagu-lagu dari tahun 1998-2003-an yang masih nyangkut di kepala silahkan bagi2.

Oh iya, jadi kepingin artikel yang sama untuk lagu jaman 1989 - 1993, karena tiba2 teringat lagu Radiohead - Creep yang ternyata tidak terdengar jadul, walau aku dengarkan belasan tahun kemudian.

 

[Apdet]

9. Collective Soul - Run

Aku malu, malah lagu yang memorable seperti lagu Collactiove Soul - Run ini yang muncul di tahun 1999 aku tidak ikut sertakan. Padahal lagu ini yang mengajariku untuk mengenal yang namanya drum beat itu. Nevertheless, lagunya ini santai tapi catchy abies dan video klipnya seru abies, I mean ada unicorn sedang berlari disitu. Gak ada yang ngalahin Unicorn.

Plurk vs Twitter vs Facebook Status vs Google Buzz

By DwAN on 19-Feb-10 23:36. Comments (15)
  Plurk Twitter Facebook Status
Google Buzz
Microblogging Yes Yes Sort Of Sort Of
         
Status update
Yes
Yes
Yes
Yes
Status update from my friend that I need Yes No No No
Status update from famous peaople that I need
Sort Of Yes Yes No
         
Rewarding system
Yes
No
No No
Emoticons Yes
No
No No
Timeline Yes Sort Of Sort Of Sort Of
Themeing system Yes Yes No No
         
Friends List Yes Yes Yes Yes
Fans List Yes Yes No No
         
I want to be famous so I join it No Yes No No
!(I don't know why I join it) a.k.a I know why I join it
Yes Yes Yes
No
All my friends and all the cool people I (wish to) know used it Yes Yes Yes No
I voluntary join it Yes Yes No No
I join it so I can write what ever I want Yes Yes Yes Yes
         
Comment on someone post Yes Sort Of Yes Yes
Comments are threaded so I  don't litter someone else page with something they ddin't need Yes No Yes Yes
Alay Free Sort Of No No Yes
         
I can silently not recieve someone post eventhough he/she is on my friend list Yes No No No
Need special attentions Yes No No No
Private update Yes No No No
         
In the end, I wish everyone use this instade other services Yes No No No
         
I'm using it
Yes Yes
Yes
Yes

 

 

Anomality in Life

By DwAN on 12-Feb-10 18:02. Comments (7)

Anomality in Life. Anomality - it's that even a word :D. Jadi ceritanya suatu hari aku sedang berbincang dengan sobatku.

Sobatku: "Don, seneng yah ngeliat teman-teman kita udah pada gendut-gendut semua"
Aku: "Iya, tapi gw masih kurus juga"
Sobatku: "Tapi kan lu dulu sempet naek 5 kilo"
Aku: "Iya, tapi itu gw sengajain"
Sobatku: "Loh, kok gitu"
.... (berlanjut ke pembicaraan gak penting lainnya)

Semenjak saat itu aku jadi berfikir, kenapa begitu yah. Aku yang memang punya keturunan akan kurus selalu selalu merasa ingin menjadi agak gemuk, segala upaya telah aku curahkan (berlebihan) namun penampakanku tetap sama. Sedangkan teman-temanku yang lainnya yang sudah nampak gendut sudah melakukan berbagai macam cara dan upaya untuk menurunkan berat mereka, namun mereka tetap gendut-gendut juga.

Dari situ aku berfikir lagi, apakah semua orang seperti itu? Dan ternyata selain itu aku mendapatkan hal-hal semacam itu, yang akhirnya aku buat daftarnya di post-an ini. Aku sebut "The Anomality in Life":

 

1. Gendut vs. Kurus

Ini hal yang umum, yang sering orang-orang keluhkan, dimana yang gendut ingin kurus dan yang kurus ingin gemuk. Coba saja kita tanyakan kepada kebanyakan orang gendut atau kurus, pasti mereka memiliki keinignan yang tadi aku sebutkan.

 

2. Kulit Putih vs. Kulit Gelap

Ada hal yang umum bagi kaum perempuan di daerah Asia Tenggara untuk memiliki kulit yang putih, berbagai macam kosmetik dan perawatan mereka gunakan untuk membuat kulit mereka menjadi putih, sedangkan orang-orang berkulit putih di Amerika atau Eropa berlomba-lomba membuat kulitnya menjadi Tan (aka gelap kecoklatan). Suatu hal yang anomali sekali.

 

3. Tinggi vs Pendek

Ini hal yang umum, orang pendek pasti ingin membuat dirinya lebih tinggi, namun ada juga orang yang tinggi juga menginginkan lebih pendek karena percaya atau tidak orang tinggi itu sama mindernya dengan orang pendek kalau mereka berada di kumpulan orang-orang yang lebih pendek atau lebih tinggi dari mereka.

 

Sebenarnya masih banyak ke anomalian lainnya yang kalau benar-benar aku pikirkan bisa bikin list berpuluh-puluh baris. Tapi dari tiga contoh diatas semestinya kita akan mendapatkan gambaran dari apa yang ingin aku ceritakan.

Selanjutnya adalah mencari penyebab kenapa orang-orang seperti ini. Hipotesa awalku karena tayangan di TV atau Film yang selalu menampilkan sosok-sosok tubuh ideal dari yang muncul di layar. Para orang-orang yang muncul di layar tersebut adalah orang-orang yang memiliki bentuk badan yang ideal, yang laki-laki selalu tampil dengan penampilan yang maco dan tinggi sedangkan para perempuannya selalu ditampilkan dengan tampilan langsing dan berkulit putih. Apakah hal tersebut dapat dijadikan alasam ke anomalian ini.

Hipotesa kedua ku adalah budaya dan pujian, kalo di budaya timur khusunya di negara kita, orang yang putih pasti akan selalu akan dipuji, yang kurus dan tinggi juga ikutan di puji. Lalu kalau di budaya barat, orang-orang bule berkulit coklat gelap pasti akan dipuji karena pasti habis berlibur ke pantai atau semacamnya.

Dari kedua hipotesa tersebut akhirnya aku mengambil kesimpulan sendiri, bahwa rata-rata orang memang tidak pernah puas, selalu melihat rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, lalu semuanya berujung kepada semua orang memang senang di puji. Ahhh ... pada akhirnya tulisan ini sendiri sebenarnya introspeksi diriku sendiri yang memang selama ini dapat dibilang sebagai orang-orang tersebut, orang-orang yang tidak pernah puas dengan diri sendiri dan seseorang yang selalu ingin dipuji.

Ada tambahan mungkin dari teman-teman?

A Thought About Digital and Traditional Distribution

By DwAN on 04-Feb-10 18:54. Comments (1)

Digital Vs. Traditional Distribution. Ini hanya sekedar pemikiran sederhanaku, data tidak didukung oleh bukti nyata, jadi sekali lagi artikel ini hanya opiniku semata. Aku bukan profesional analyst dan bukan pemain dalam dunia tersebut, namun kenapa aku menulis artikel ini? Karena memang lagi ingin dan menyangkut proyek rahasia yang sedang aku tekuni (headspin). Dan sebagai peringatan awal, tulisannya ku ini panjang dan tidak berstruktur, sering lompat-lompat dan tidak memiliki arti yang jelas. Sudahku peringatkan loh :D.

Sebelum membahas tentang topik di atas, mari kita menilik sebentar tentang sejarah Digital Distribution. Sepengetahuan aku, Digital Distribution mulai muncul semenjak kepopulean iPod dan munculnya iTunes Music Store yang di besut oleh Apple Corp. Kalau tidak salah tahun 2003-an adalah dimulainya era Digital Distribution. Pada awalnya perkembangan Digital Distribution, produk yang di bawa hanya Music Digital mengingat kecepatan koneksi internet pada zaman tersebut belum secepat koneksi sekarang. Hal yang logis jika Digital Distribution dimulai dari file-file kecil - namely - file-file musik yang rata-ratanya hanya 5 sampai 6 Mega Bytes.

Digital Distribution pada kancah industri music pada saat ini praktis hampir menggeser Traditional Distribution berupa CD dan Kaset hingga saat ini. Namun apakah tiba-tiba semua orang pindah ke Digital Distribution baik para label dan penggemar musik, jawabannya belum. Masih banyak penggemar musik yang lebih memilih Traditional Distribution karena kepemilikan yang nyata dari produk yang dia beli (Ada kotak CD dan Booklet + CD Art-nya). Namun seiring perkembangannya diperkenalkanlah Digital Booklet yang sama menariknya dengan Booklet pada CD.

Walau industri musik belum sepenuhnya ingin berpaling kepada Digital Distribution namun melihat dari hasil penjualan album artis-artis sekarang yang sudah tidak sebanyak zaman dahulu mau tidak mau mereka harus ikut serta didalamnya. Ini tidak hanya terjadi di negara maju saja, di negara kita sendiri ini pun terjadi, namun perbedaannya Digital Distribution di Indonesia berbentuk Ring Back Tone bukan berbentuk Digital Music store a.l.a iTunes Music Store.

Yang selalu menjadi pertanyaanku, apakah memang sudah saatnya industri musik pindah seratus persen ke Digital Distribution? Dilihat dari perkembangannya akhir-akhir ini, industri musik memang sudah seharusnya mulai condong ke arah sana, lihat saja label-label besar di Indonesia sekarang mula tidak gencar dengan Traditional Distributionnya, makin jarang kita lihat iklan untuk menyuruh kita beli Kaset ato CD, malah lebih sering mengiklankan RBT. Ditambah lagi label-label di Indonesia sekarang mulai bergeser dari distributor musik menjadi distributor artis a.k.a. management artis.

Lalu adakah keuntungan dari Digital Distribution tersebut? Pikiran awal kita pasti sedikit CD dan Kaset maka makin sedikit produksi kertas dan plastik untuk produk tersebut, sehingga Digital Distribution lebih ramah lingkungan. Et, jangan lupa, di balik Digital Distribution ada mesin yang berjalan 24 jam dibelakang untuk menyokokng kegiatannya, jadinya tidak tepat kalau dibilang Digital Distribution itu lebih ramah lingkungan.

Kalau aku lebih berfikir ke arah siapa saja jadi bisa mendistribusikan karyanya ke semua orang tanpa melalui pihak Label yang beribet-ribet, para artis tersebut bisa bebas berekspresi tanpa kekangan pihak label yang khawatir kalau karya artisnya tidak sesuai pasaran. Kalau tidak percaya, semisal aku punya 1 lagu yang aku buat aku bisa langsung mempublisnya lewat Internet. Kalau aku memang tidak mencari keuntungan, aku bisa menguploadnya ke last.fm dan memberikan full download buat siapa saja. Cuman kalau mau jualan dikit aku bisa langsung mensubmit ke Online Music Store seperti iTunes Music Store. Tapi apa mungkin bisa? Coba googling Equinox DMD.

Andy Warhol pernah berkata "In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." Mungkin ada benarnya dia.

Enough about Music Industry, how about Movie or Book Industries? Both of them have equal opportunities in Digital Distribution. So true, aku setuju dengan pernyataan ini. Di Movie Industri, kalau mau dibilang aku aja hampir tidak pernah membeli DVD secara fisik, semuanya aku tonton via Internet atau aku sedot dari Internet, dan kalau lagi ada niat ya pergi ke bioskop biar lebih puas.

Digital Distribution untuk Movie Industri memang semenjak awal memang tidak terlalu signifikan, karena orang-orang masih lebih memilih pergi nonton ke Bioskop. Namun perlu di cermati juga bahwa Traditional versus Digital Distribution di Dunia Per-movie-an bisa dibilang tidak saling mematikan, lihat saja masih banyak orang nonton ke Bioskop (iya, baru inget kalau ternyata Bioskop itu bisa di bilang Traditional Distribution).

Beda dengan Music, hambatan terbesar dari Digital Distribution terbentur pada kecepatan internet yang masih kurang cepat untuk mengunduh film-film yang besarnya bisa lebih dari 1 Giga Bytes. Kalau di negara maju kendala ini hampir tidak ada mengingat kecepatan internet di sana yang selalu bikin ngiri kita orang Indonesia. Namun tidak menutup kemungkinan juga, walau di dukung koneksi internet yang cepat, orang-orang di sana masih lebih suka menonton ke bioskop, lihat saja film terlaris sepanjang masa muncul di tahun sekarang (baca: Avatar).

Orang juga masih lebih memilih ke bioskop karena tata suara yang lebih dan layarnya lebih besar ketimbang kalau nonton di rumah sendiri. Kalau pendapatku Digital Distribution di dunia Per-movie-an masih belum banget.

Nah dari Movie menyambung ke TV, tidak dapat dipungkiri juga bahwa Digital Distribution di dunia per TV-an mulai menggeliat juga. Lihat saja mulai bermunculan layanan TV on demand seperti Hulu atau IP TV - layanan TV via internet. Permasalahannya adalah orang lebih suka nonton acara TV di TV (do'oh).

Satu-satunya alasan orang ingin berpindah ke Digital Distribution di dunia per-TV-an karena mereka ingin melihat tontonan kesukaan mereka kapan saja tanpa harus mengikuti jadwal siarannya. Tapi kalau aku prediksi, pada dunia pertelevisian memang Digital dan Traditional Distributionnya akan selalu jalan beriringan, mengingat masih kuatnya budaya menonton TV.

Selanjutnya mari kita bergeser dari industri Movie dan TV yang besar ke industri Movie dan TV yang lebih kecil a.k.a para pemain independent di dunia tersebut. Sama halnya dengan industri music, para indie-ers di dunia ini dimudahkan dalam pemasaran produknya. Semua orang tiba-tiba bisa mempublish karyanya ke khalayak ramai tanpa halangan.

Dan jangan biarkan aku menulis lebih lanjut mengenai Digital Distribution di dunia percetakan dan perbukuan. Walaupun pada industri ini lebih dominan Digital Distribution dibandingkan Traditional Distribution. Apa lagi dunia game yang sudah mengarah ke arah sana dengan Downloadable Content-nya serta Game On Demand.

Kesimpulannya yang ingin aku ambil di sini sebenarnya, Digital Distribution baru mengalami kesuksesan pada industri musik dan buku/percetakan. Untuk industri lain seperti Movie, TV dan Games perlu waktu yang masih lama untuk Digital Distribution menggeser Tradisional Distribution. Saranku (kepada siapa :P) adalah: Digital Distribution memang satu-satunya Distribution untuk masa depan, bagi pihak-pihak yang bersinggungan dengan Digital Distribution sebaiknya bersiap-siap dari sekarang agar tidak tertinggal.

Sebagai tambahan, dengan Digital Distribution tiba-tiba semua orang bisa mempublikasi karyanya ke khalayak ramai, hanya saja nantinya akan terbentur ke hal promosi yang merupakan bahasan yang beda lagi. Hal ini akan memacu para pelaku independent yang ada di setiap dunia tersebut.

Di akhir kata, sekali lagi maafkan tulisanku yang rada semrawut dan tidak memiliki struktur ini, ingin sekali menuangkan semua pemikiranku dalam tulisan ini, namun karena keterbatasan waktu (a.k.a males) jadi aku sudahi saja tulisan. Mungkin dilain waktu akan aku edit lagi sehingga menjadi tulisan yang lebih bermutu. Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah 2 paragraf terakhir sebelum ini, tapi aku jelimetkan dengan tulisan ngawur nan ngaco :D

 

What is FortuneCookids

By DwAN on 01-Feb-10 18:28. Comments (1)
Tags: None

Latar belakang:

Kurang lebih satu setengah tahun kemarin, saat terbengong-bengong di depan komputer iMac kantorku yang lama: "eh selama ini sepertinya aku bersama teman-temenku sering karokean, terus terbesit selentingan kita nge-band yuk daripada karokean mulu". Nah dari selentingan ide gila itu, terpikirlah bagaimana kalo aku ngajuin ke teman-temanku buat bikin band. Lanjut cerita, aku mengirim email ke salah-satu temanku yang pernah sounding buat ngajak nge-band, namanya Re.

Keesokan harinya, emailku di balas sambil menforward email tersebut kebeberapa temanku yang lainnya. Walhasil weekend pada minggu itu kami berencana ketemua di PIM. Ada beberapa temanku yang dikirimin email tersebut namun yang muncul hanya Re dan DitzZ. Namanya FortuneCookids sendiri didapatkan karena waktu itu kami makan di restauran Cina dan mendapatkan kue keberuntungan yang berisikan untuk selalu berjalan maju (kurang lebih begitu). Lalu kelanjutannya bagaimana? 

 

Kelanjutan:

Kelanjutannya kami hanya sering-sering bertemu saja di weekend. Hingga pada suatu saat semuanya berhenti karena kesibukan kami sendiri-sendiri. Aku sendiri sempat tidak tau mau dibawa kemana arahnya. Walaupun format awalnya inginnya jadi Band, cuma kami hanya pernah nge-band bareng 1 kali selama 1 jam dengan 1 lagu yang telah aku buat.

Lalu beberapa bulan yang lalu, setelah perjuangan belajar main instrumen di depan komputer, dan karena ke vakuman band ini, akhirnya aku memutuskan mensirkulasikan beberapa lagu lainnya yang telah aku rekam di antara ke 2 + 1 temanku tersebut. Plus satu, karena ada satu temanku lagi yang turut serta membantu band ini.

 

Kelanjutan dari kelanjutan:

Sehabis itu kami sempat bertatap muka beberapa kali hingga kembali vakum lagi sampai saat ini. Setelah berfikir matang-matang (nggak matang juga) dan berdiskusi dengan teman-temanku tersebut. Akhirnya dimantapkan saja bahwa kami sebuah Grup bukan Band, karena kami tidak memainkan alat musik asli, namun hanya memainkan alat musik elektronik di komputer istilahnya Electronic Bedroom Musician mungkin ya :D.

Untuk itu, diputuskan juga (secara sepihak oleh aku sebenarnya), kami akan mulai mendistribusikan musk kami sebagai hal yang santai tapi tetap ingin serius dengan membuka website fortunecookids.com dan memulai pengenalan musik kami (yang nyeleneh musiknya) ke khalayak ramai. Siapa tahu ada yang tertarik untuk mendengarkannya. Namun karena kesibukan (lagi-lagi) website tersebut hanya baru dapat menampilkan 1 buah gambar dan link ke website kami :D.

Dengan demikian FortuneCookids dapat dibilang proyek iseng-iseng kami untuk menunjukkan kamusikalitasan (kalo boleh dibilang begitu) kami yang terbatas ini agar bisa di dengar musik kami. Ditambah ini sarana untuk menyebarkan lagu-lagu yang selama ini semenjak SMP telah aku buat.

 

Showing 11 - 15 of 229 Articles
OMG, gilak udah banyak juga yach hasil postinganku, kira-kira bisa jadi buku gak?