Your Login Details


Blogosphare

Waking up the review

By DwAN on 26-Feb-10 10:38. Comments (7)

Societie ternyata kembali menjadi tempat ku membeli CD album barunya OneRepublic. Alkisah kamis kemarin setelah selama 2 bulan lebih tidak pernah ke PIM lagih, akhirnya aku menyinggahinya karena sudah bikin janjian buat ngumpul bareng teman-temanku. Hal yang pertama kali aku ingat kalau lagi bersua ke suatu mall adalah mencari toko CD, dimana kalau di PIM khususnya PIM 2 terdapat 2 buah toko CD, Sociatie dan satunya lupa judulnya. Nah, ketika browsing-browsing CD di toko Societie itu, akhirnya ketemu juga album barunya OneRepublic yang berjudul Waking Up, yang sebenarnya sudah beredar dari bulan November tahun lalu di negaranya sana, tapi sepertinya baru bereder bulan-bulan ini di Jakarta.

Kesan awal melihat albumnya: "Loh kok Album Artnya beda sama album art Waking Up yang ku kenal". Selidik punya selidik (bertandem ke Wikipedia), ternyata memang ada 3 (tiga) versi album ini, yang pertama versi oroginal, yang kedua versi deluxe dan yang ketiga versi International. Silahkan telaah perbedaannya dibawah ini:

Waking Up

Persi Awal

Waking Up Deluxe

Persi Deluxe

Waking Up International

Persi International

Kenapa harus ada 3 yah? Aku pun tidak tau. Yang jelas selain gambarnya yang beda, dimana album art yang versi International lebih ciaur, karena desain awalnya ditimpa pake poto anggota bandnya yang kataku malah jadi gak masuk, ternyata konten a.k.a lagu-lagu didalamnnya berbeda. Pada album versi awalnya terdapat 11 buah lagu, lalu di versi deluxe (yang cuman nongol di Amerika Serikat sono) ditambah 4 lagu tambahan dan di versi International hanya ditambah 2 lagu tambahan dan 1 versi berbeda dari lagu berjudul All This Time. Btw, album art-nya sendiri bertemakan cipratan cat.

Waking Up Album Art 2

Bagian Depannyahhh

Waking Up Album Art 3

Bagian Belakangnnyahh, ada 13 laguhh

Waking Up Album Art 7

Bagian depan, dalem, CD.

Kali ini, albumnya di produseri oleh Ryan Teddar, vokalisnya band ini. Beliau telah banyak berkecimpung sebagai produser lagu seperti beberapa lagu di album pertamanya Blake Lewis, terus lagu Halo dari mbak Beyonce, lagunya Bleeding Love-nya mbak Leona Lewis, dan sebagainya. Kalau sering memperhatikan lagu-lagu yang di produserin samas mas Ryan, bisa diambil benag merah dimana semuanya lagunya akan memiliki beat/irama Drum Loop yang kalo bisa kamu denger pasti sulit dilupakan, dan irama Drom Loop yang terkesan lebih dominan. Dari situ, ketika pertama kali aku mendengar lagu andalan mereka All the Right Moves aku menebak kalau lagu ini di produseri oleh mas Ryan. Dan ternyata benar, ketika beberapa minggu sebelum albumnya keluar, aku ingat salah satu Tweet dari anggota mereka yang mengatakan album kedua mereka di produseri sama mas Ryan.

Selain lagu All The Right Move yang kental dengan irama buatan mas Ryan, ada beberapa lagu lagi yang ketika pertama kali dengar langsung tau pasti ini buatan mas Ryan. Lagu berjudul Secret, Good Life dan Marching On sangat membuktikan keterlibatannya dalam album ini. Sangat kentara sekali begitu dominannya mas Ryan dan band ini, tapi perlu diacungin jempol karena hingga saat ini dia tidak pernah bersolo karir dan tetap kekeh dalam OneRepublic.

Sedikit cerita dibalik lagu-lagunya, sempat suatu waktu ada tweet atau bacaan di websitenya (lupa aku) dari OneRepublic yang menyatakan: "Anggota band kami sudah tua, ada yang sudah berkeluarga dan bahkan ada yang sudah memilik anak, oleh karena itu album Waking Up ini tidak melulu tentang lagu cinta, seperti lagu-lagu di album pertama kami yang saat itu beberapa lagunya ada yang kami buat ketika kami remaja". Dari pesan itu, aku penasaran apa benar lagu-lagunya bukan lagu-lagu cinta. Ternyata setelah secara satu persatu aku mencari lirik lagu-lagu dari album ini, ternyata benar pernyataan ini.

Lagu All The Right Moves contohnya menceritakan kekhawatiran mereka terhadap album ini, dimana mereka yang sudah di cap one hit wonder karena single Apoligize dari album pertama mereka yang merupakan lagu yang terbanyak didownload hingga saat ini khawatir karena cap itu, mereka dipandang sebelah mata. Dalam lagu itu menceritakan, kekhawatiran mereka terhadap penyanyi/band-band baru yang lebih memiliki tampilan catchy dan "berbakat" akan meneggelamkan band mereka, secara mereka sudah pada tua.

Ada lagi lagu Secrets yang menceritakan dilema seorang penulis lagu. Dimana seperti pengalamanku, suatu saat pasti akan terjadi suatu keadaan dimana telah bahan cerita yang bisa dijadikan sebuah lagu, karena rahasia dalam hidupnya telah dituangkan semua ke dalam lagu. Tambahan lagi, lagu tersebut menceritakan ketidak suakaan dirinya terhadap lagu buatannya sendiri. Suatu hal yang sangat umum di dunia kretif. Tidak ada seorang artis yang menyukai karyanya sendiri, karena ketika dia telah puas dengan hasil karyanya, dia akan berhenti berkarya (kalimat barusan sepertiya pernah aku baca dimana, cuma lupa).

Dari pada cerita lebih panjang dan lebar, berikut penilainku terhadap album ini dan berserta lagu-lagu di dalamnya dalam satu buat gambar:

Waking up in one jpeg

Lagu andalan mereka All The Right Moves dan Secrets tidak dapat dipungkiri lagi merupakan lagu yang enak di dengar. Lalu ada beberapa hidden gem di lagu ini, yaitu lagu Missing Person 1 & 2, Good Life dan Marching On. Sebagai catatan lagu yang ternyata favoritku di album ini sangat kental sekali irama dari mas Ryan-nya. Aku ada cerita sedikit dibalik lagu Missing Person 1 & 2, lagu ini sangat aneh karena gabungan 2 buah lagu, dimana keduanya memiliki aura yang berbeda. Bagian pertama lagu itu memiliki aura sendu dan bagian keduanya memiliki aura seram. Pada awalnya aku benci sekali dengan lagu ini, tapi ntah kenapa ini lagu malah lagu yang sering aku dengar di kantor. No 1 di lagu yang paling sering aku dengar, aneh. Yang pada akhirnya aku putuskan kalo lagu ini memang seru.

Ada dua Lagu bonus di album ini yaitu Sleep dan Shout, entah kenapa lagu Sleep seperti pernah aku dengar, karena lagunya sangat familiar. Sepertinya sih itu lagu bonus di album mereka yang pertama yang tidak ada di albumnya yang beredar di Jakarta. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku dari bulan Desember 2009 sudah mendengarkan albumnya (versi di dongdong di intertubes), jadinya udah meresapi lagu-lagunya.

Links: Photo album Waking Up-ku | OneRepublic's Tweet | Website mereka | Info album mereka di Wikipedia

Songs from the Millenium

By DwAN on 21-Feb-10 09:41. Comments (5)

Ide awalnya adalah mengumpulkan lagu-lagu dari tahun 1999-2001 yang masih terngiang-ngiang dalam pikiranku, dimana lagu tersebut memang lagu yang memorable banget (mau tulis dalam hidupku, tapi ntar jadi berlebihan). Namun dalam proses pengumpulannya aku perluas dari tahun 1998-2003, menjadi renggang waktu 5 tahun. 

Alasan aku menulis ini adalah karena sekarang sudah tahun 2010 dan Millenium itu udah 10 tahun yang lalu, tidak menyangka waktu berjalan dengan begitu saja. Aku teringat pada waktu itu (tahun 2000), lagu-lagu dari tahun 1990 sudah terasa lama, semisal lagu NKOTB (ingetnya cuman NKOTB) kalau di dengarkan aku waktu itu, pasti langsung ku bilang jaduls abiez. Tapi entah kenapa lagu2 dari tahun 2000 itu tidak terasa jadul walau aku dengarkan di tahun 2010 ini.

Berikut daftar lagu dari jaman tersebut yang samapai saat ini masing terngiang-ngiang dalam pikiranku (ditulis tanpa ada urutan).

 

1. Robbie Williams - No Regrets

Lagu ini berasal dari tahun 1998, 12 tahun yang lalu. Lagu yang pada awalnya aku benci, karena penyanyinya (yang hingga saat ini aku masih benci kalo ngeliat penyanyinya - aku benci mungkin karena gayanya yang smug). Tapi karena aku terbuka soal musik :P, walau penyanyinya aku benci tapi lagunya tetep aku suka. Aku kira ini hanya lagu cinta biasa, tapi setelah tahu-mengetahuinya ternyata ini lagu tentang dia dan boyband Take That, seperti kita tahu dia adalah mantan anggota boyband tersebut, dan dalam lagu ini menceritakan alasan kenapa dia keluar dari boyband tersebut.

 

2. Aqua - Turn Back Time

Ini lagu slow satu-satunya dalam album pertamanya Aqua yang berjudul Aquarium. Albumnnya sendiri rilis tahun 1996-an kalau tidak salah. Lagu ini lagu terakhir dari album tersebut yang dibuatkan video klipnya (dengan total 7 video klip dalam satu album tersebut). Aku tidak tahu cerita dibalik lagu ini tapi lagu ini sedih banget sehingga jadi membekas di pikiranku. Video klipnya sendiri berbeda dari video klip Aqua sebelumnya yang bersifat kartun dan humor dimana dalam video klip ini lebih menawarkan suasana sendu. Lagu ini sendiri sering membuat aku berintrospeksi diri akan kesalahanku yang telah aku lakukan di waktu yang telah lampau.

 

3. Nada Surf - Inside of Love

Lagu ini berasal dari tahun 2003, dimana terdapat dalam album mereka yang berjudul Let Go dan album komilasi (yang aku lupa judulnya) yang aku miliki. Lagunya sendiri cukup sedih, semacam menceritakan orang yang terbuang (atau semacamnya). Aku kalau mau tiba2 merasa sedih dan sendu bisa langsung menyanyikan lagu ini dan tiba2 menjadi sedih dan sendu, sebegitunya karena lagu ini entah kenapa semacam menceritakan keadaanku pada waktu itu :D.

 

4. T.A.T.U - Not Gonna Get Us

Lagu energic ini muncul pada tahun 2003, dan langsung terngiang -ngiang dalam pikiranku. Lagunya sangat simpel sehingga ketika pertama kali aku mendengarnya langsung terkesima (berlebihan). Aku tidak tahu cerita di balik lagu ini namun aku selalu menganggap kalo lagu ini menceritakan tentang perlarian seperti dalam video klipnya.

 

5. Sugababes - New Year

Satu-satunya Girlband kesukaanku, yang sekarang sayangnnya walau belom bubar semua anggotanya sudah digantikan, sedangkan anggota pertamanya sudah keluar semua. Lagu ini berasal dari tahun 2000. Lagu yang mereka tulis sendiri padahal mereka baru berumur 15 tahunan waktu itu (gila masih muda ajah, sekarang sih udah tua). Lagu dari album pertama mereka yang sebenarnya ada satu lagi yang juga bikin terngiang-ngiang (di tulis di nomer selanjutnya). Lagunya sendiri lagu cinta biasa (sepertinya) menganang cerita masa lalu (sepertinya), tapi aku suka sekali karena nada dan musik dari lagunya yang tidak lazim (off beat - sepertinya). 

 

6. Haven - Say Something

Lagu yang muncul di tahun 2002, dimana video klipnya suka tayang di MTV pada waktu tengah malam. Sangking sukanya sama lagu ini aku beli album band ini, yang ternyata semua lagunya bernuansa sedih dan gloomy seperti lagu ini. Lagunya sendiri sepertinya lagu cinta tapi bercerita tentang kebohongan, lagu cinta yang tidak lazim kalau kata ku.

 

7. Sugababes - Soul Sound

Aku suka musik dari lagu ini, begitu menenangkan, liriknya juga. Dan mereka menyanyinya dibawa santai. Muncul tak lama setelah lagu New Year mereka (2001 kalau tidak salah, atau New Year duluan?). Sampai sekarang aku masih suka sekali meng-humming ini lagu. Padahal lagunya sederhana banget, nggak catchy-catchy abies. Tapi dari situlah aku jadi sering mendendangkannya. Seandainya aku punya lagu beserta albumnya Sugababes yang ini.

 

8. Dove - Pounding

Tidak banyak yang tau band ini, aku juga gak tau band ini kalau tidak karena lagu ini. Lagu ini muncul tahun 2002, begitu dengar aku langsung terkesima, lanjut kata karena bandnya jarang di kenal sehingga lagunya jarang diputar, jadi semacam penasaran, walhasil aku jadi sering banget nge-humming bagian chorusnya.

Cukup sekian terima kasih, artikel ini aku ambil dari playlist Youtubeku ini. Dapat dilihat kalau ternyata aku selalu lebih menyukai artis-artis dari Eropa terutama Inggris (Gak penting :D). Akhir kata, kalau teman-teman punya lagu-lagu dari tahun 1998-2003-an yang masih nyangkut di kepala silahkan bagi2.

Oh iya, jadi kepingin artikel yang sama untuk lagu jaman 1989 - 1993, karena tiba2 teringat lagu Radiohead - Creep yang ternyata tidak terdengar jadul, walau aku dengarkan belasan tahun kemudian.

 

[Apdet]

9. Collective Soul - Run

Aku malu, malah lagu yang memorable seperti lagu Collactiove Soul - Run ini yang muncul di tahun 1999 aku tidak ikut sertakan. Padahal lagu ini yang mengajariku untuk mengenal yang namanya drum beat itu. Nevertheless, lagunya ini santai tapi catchy abies dan video klipnya seru abies, I mean ada unicorn sedang berlari disitu. Gak ada yang ngalahin Unicorn.

A Thought About Digital and Traditional Distribution

By DwAN on 04-Feb-10 18:54. Comments (1)

Digital Vs. Traditional Distribution. Ini hanya sekedar pemikiran sederhanaku, data tidak didukung oleh bukti nyata, jadi sekali lagi artikel ini hanya opiniku semata. Aku bukan profesional analyst dan bukan pemain dalam dunia tersebut, namun kenapa aku menulis artikel ini? Karena memang lagi ingin dan menyangkut proyek rahasia yang sedang aku tekuni (headspin). Dan sebagai peringatan awal, tulisannya ku ini panjang dan tidak berstruktur, sering lompat-lompat dan tidak memiliki arti yang jelas. Sudahku peringatkan loh :D.

Sebelum membahas tentang topik di atas, mari kita menilik sebentar tentang sejarah Digital Distribution. Sepengetahuan aku, Digital Distribution mulai muncul semenjak kepopulean iPod dan munculnya iTunes Music Store yang di besut oleh Apple Corp. Kalau tidak salah tahun 2003-an adalah dimulainya era Digital Distribution. Pada awalnya perkembangan Digital Distribution, produk yang di bawa hanya Music Digital mengingat kecepatan koneksi internet pada zaman tersebut belum secepat koneksi sekarang. Hal yang logis jika Digital Distribution dimulai dari file-file kecil - namely - file-file musik yang rata-ratanya hanya 5 sampai 6 Mega Bytes.

Digital Distribution pada kancah industri music pada saat ini praktis hampir menggeser Traditional Distribution berupa CD dan Kaset hingga saat ini. Namun apakah tiba-tiba semua orang pindah ke Digital Distribution baik para label dan penggemar musik, jawabannya belum. Masih banyak penggemar musik yang lebih memilih Traditional Distribution karena kepemilikan yang nyata dari produk yang dia beli (Ada kotak CD dan Booklet + CD Art-nya). Namun seiring perkembangannya diperkenalkanlah Digital Booklet yang sama menariknya dengan Booklet pada CD.

Walau industri musik belum sepenuhnya ingin berpaling kepada Digital Distribution namun melihat dari hasil penjualan album artis-artis sekarang yang sudah tidak sebanyak zaman dahulu mau tidak mau mereka harus ikut serta didalamnya. Ini tidak hanya terjadi di negara maju saja, di negara kita sendiri ini pun terjadi, namun perbedaannya Digital Distribution di Indonesia berbentuk Ring Back Tone bukan berbentuk Digital Music store a.l.a iTunes Music Store.

Yang selalu menjadi pertanyaanku, apakah memang sudah saatnya industri musik pindah seratus persen ke Digital Distribution? Dilihat dari perkembangannya akhir-akhir ini, industri musik memang sudah seharusnya mulai condong ke arah sana, lihat saja label-label besar di Indonesia sekarang mula tidak gencar dengan Traditional Distributionnya, makin jarang kita lihat iklan untuk menyuruh kita beli Kaset ato CD, malah lebih sering mengiklankan RBT. Ditambah lagi label-label di Indonesia sekarang mulai bergeser dari distributor musik menjadi distributor artis a.k.a. management artis.

Lalu adakah keuntungan dari Digital Distribution tersebut? Pikiran awal kita pasti sedikit CD dan Kaset maka makin sedikit produksi kertas dan plastik untuk produk tersebut, sehingga Digital Distribution lebih ramah lingkungan. Et, jangan lupa, di balik Digital Distribution ada mesin yang berjalan 24 jam dibelakang untuk menyokokng kegiatannya, jadinya tidak tepat kalau dibilang Digital Distribution itu lebih ramah lingkungan.

Kalau aku lebih berfikir ke arah siapa saja jadi bisa mendistribusikan karyanya ke semua orang tanpa melalui pihak Label yang beribet-ribet, para artis tersebut bisa bebas berekspresi tanpa kekangan pihak label yang khawatir kalau karya artisnya tidak sesuai pasaran. Kalau tidak percaya, semisal aku punya 1 lagu yang aku buat aku bisa langsung mempublisnya lewat Internet. Kalau aku memang tidak mencari keuntungan, aku bisa menguploadnya ke last.fm dan memberikan full download buat siapa saja. Cuman kalau mau jualan dikit aku bisa langsung mensubmit ke Online Music Store seperti iTunes Music Store. Tapi apa mungkin bisa? Coba googling Equinox DMD.

Andy Warhol pernah berkata "In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." Mungkin ada benarnya dia.

Enough about Music Industry, how about Movie or Book Industries? Both of them have equal opportunities in Digital Distribution. So true, aku setuju dengan pernyataan ini. Di Movie Industri, kalau mau dibilang aku aja hampir tidak pernah membeli DVD secara fisik, semuanya aku tonton via Internet atau aku sedot dari Internet, dan kalau lagi ada niat ya pergi ke bioskop biar lebih puas.

Digital Distribution untuk Movie Industri memang semenjak awal memang tidak terlalu signifikan, karena orang-orang masih lebih memilih pergi nonton ke Bioskop. Namun perlu di cermati juga bahwa Traditional versus Digital Distribution di Dunia Per-movie-an bisa dibilang tidak saling mematikan, lihat saja masih banyak orang nonton ke Bioskop (iya, baru inget kalau ternyata Bioskop itu bisa di bilang Traditional Distribution).

Beda dengan Music, hambatan terbesar dari Digital Distribution terbentur pada kecepatan internet yang masih kurang cepat untuk mengunduh film-film yang besarnya bisa lebih dari 1 Giga Bytes. Kalau di negara maju kendala ini hampir tidak ada mengingat kecepatan internet di sana yang selalu bikin ngiri kita orang Indonesia. Namun tidak menutup kemungkinan juga, walau di dukung koneksi internet yang cepat, orang-orang di sana masih lebih suka menonton ke bioskop, lihat saja film terlaris sepanjang masa muncul di tahun sekarang (baca: Avatar).

Orang juga masih lebih memilih ke bioskop karena tata suara yang lebih dan layarnya lebih besar ketimbang kalau nonton di rumah sendiri. Kalau pendapatku Digital Distribution di dunia Per-movie-an masih belum banget.

Nah dari Movie menyambung ke TV, tidak dapat dipungkiri juga bahwa Digital Distribution di dunia per TV-an mulai menggeliat juga. Lihat saja mulai bermunculan layanan TV on demand seperti Hulu atau IP TV - layanan TV via internet. Permasalahannya adalah orang lebih suka nonton acara TV di TV (do'oh).

Satu-satunya alasan orang ingin berpindah ke Digital Distribution di dunia per-TV-an karena mereka ingin melihat tontonan kesukaan mereka kapan saja tanpa harus mengikuti jadwal siarannya. Tapi kalau aku prediksi, pada dunia pertelevisian memang Digital dan Traditional Distributionnya akan selalu jalan beriringan, mengingat masih kuatnya budaya menonton TV.

Selanjutnya mari kita bergeser dari industri Movie dan TV yang besar ke industri Movie dan TV yang lebih kecil a.k.a para pemain independent di dunia tersebut. Sama halnya dengan industri music, para indie-ers di dunia ini dimudahkan dalam pemasaran produknya. Semua orang tiba-tiba bisa mempublish karyanya ke khalayak ramai tanpa halangan.

Dan jangan biarkan aku menulis lebih lanjut mengenai Digital Distribution di dunia percetakan dan perbukuan. Walaupun pada industri ini lebih dominan Digital Distribution dibandingkan Traditional Distribution. Apa lagi dunia game yang sudah mengarah ke arah sana dengan Downloadable Content-nya serta Game On Demand.

Kesimpulannya yang ingin aku ambil di sini sebenarnya, Digital Distribution baru mengalami kesuksesan pada industri musik dan buku/percetakan. Untuk industri lain seperti Movie, TV dan Games perlu waktu yang masih lama untuk Digital Distribution menggeser Tradisional Distribution. Saranku (kepada siapa :P) adalah: Digital Distribution memang satu-satunya Distribution untuk masa depan, bagi pihak-pihak yang bersinggungan dengan Digital Distribution sebaiknya bersiap-siap dari sekarang agar tidak tertinggal.

Sebagai tambahan, dengan Digital Distribution tiba-tiba semua orang bisa mempublikasi karyanya ke khalayak ramai, hanya saja nantinya akan terbentur ke hal promosi yang merupakan bahasan yang beda lagi. Hal ini akan memacu para pelaku independent yang ada di setiap dunia tersebut.

Di akhir kata, sekali lagi maafkan tulisanku yang rada semrawut dan tidak memiliki struktur ini, ingin sekali menuangkan semua pemikiranku dalam tulisan ini, namun karena keterbatasan waktu (a.k.a males) jadi aku sudahi saja tulisan. Mungkin dilain waktu akan aku edit lagi sehingga menjadi tulisan yang lebih bermutu. Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah 2 paragraf terakhir sebelum ini, tapi aku jelimetkan dengan tulisan ngawur nan ngaco :D

 

The Script - Album Review

By DwAN on 14-Oct-09 14:03. Comments (4)


(Double cover, boros kertas nih)

Gak tau cuma di Indonesia ajah atau nggak, tapi ntah kenapa sampulnya kok jadi Double Cover. Mungkin untuk pasaran Indonesia kurang cocok ya Album Art-nya pake modern art gitu :D. Jadinya di bikin dah tutupan dengan gambar foto anggota Band-nya, jyakakaka (yang sebenarnya itu gambar belakang Album Art CD-nya.

So, selasa 2 minggu yang di niat-niatin dah mau beli CD ini, berhubung di Radio (Global Radio) yang sering aku dengerkan tiba2 jadi sering muterin lagunya. Alhasil sehabis browsing2 youtube buat nyari lagu-lagunya yang lain (hihihi, browsing youtube buat denger lagu doang) dan setelah mengetahui ternyata banyak lagunya yang easy listening jadi diniatin deh beli albumnya.

Ini dia cover versi Indonesianya
(Ini sampul terluarnya yang kaeknya cuma ada di Indonesia)

Sebenarnya ini Band udah mengudara semenjak 2008, soalnya sering banget ngeliat Video Klipnya di O' Channel. Yang kesan pertama waktu pertama dengerin lagu "The Man Who Can't Be Move", wow unik juga, langsung dapet ke-catchy-annya, dan ringan plus, ide cerita video klipnya lumayan unik juga yang merupakan adaptasi dari isi lagunya. Btw, ini album pertama mereka, jadi congrat dah untuk mereka.

(Tadinya mau embed video clip-nya di sini dari youtube tapi gak diperbolehkan ^___^)

Back ke topik (hmm dari tadi padahal belom ngalor-ngidul). Setelah beli ni CD di satu-satunya toko CD di daerah Senayan (baca Duta Suara Plaza Senayan) setiba di rumah aku langsung perdengarkan di komputerku (sambil di-rip dulu. It's legal untuk menge-rip CD di Indonesia?). Kesan pertama: langsung dapet 3 buah lagu langsung aku suka, yaitu "Breakeven", "The Man Who Can't Be Move" dan "Before The Worst" yang ternyata emang lagu-lagu andalan mereka (terlihat dari banyaknya video untuk lagu-lagu itu di Youtube). Sedangkan lagu lainnya aku anggap aneh. 

Selanjutnya setelah dengerin albumnya beberapa kali. Loh kok vokal vokalisnya mirip vokal-nya Sting dan Jason Mraz, bahkan di beberapa lagu ada yang nuansanya mirip nuansanya lagu Sting dan Jason Mraz. Seperti "We Cry" yang nuansanya mirip lagunya Jason Mraz dimana setelah didengarkan beberapa kali, aku jadi suka sama lagunya. Lagunya ada bait semacam agak nge-rap dengan tempo yang medium, walau jenis musiknya beda sama Jason Mraz tapi lantunan lagunya satu tema.

Terus ada lagi lagu "Rusty Halo" dan "Talk You Down" yang nuansanya mirip lagu-lagu Sting. Kedua lagu itu lumayan susah dicernanya, terbukti setelah 5 kalian aku denger baru aku jadi suka sama lagu "Talk You Down" dan belakangan malah jadi suka sama lagu "Rusty Halo" yang berirama cepat dan dengan nada yang tidak biasa. Pas pertama kali dengar sempet berfikir "Lagu apa nih aneh banget, gak banget deh, gak bakal aku dengerkan lagi". Bahakan sempet aku skip-skip terus kalo lagi dengerin albumnya. Tapi sekarang-sekarang kalau dengerin lagu "Rusty Halo" jadi sering keterusan, ada sesuatu dalam musik dan cara penyanyiannya yang bikin pingin dengerin lagi dan lagi.

Terus ada ada lagu lain yang ada di last track (kesepuluh, hmm tumben2an album londo cuman ada 10 lagu) yang judulnya "I'm Yours" (judulnya mirip lagunya Jason Mraz tapi nadanya gak mirip sama sekali), ini ada juga di Youtube tapi gak aku perhatikan dengan seksama. Dan pertama kali aku dengerin lagunya,  komenku: "nih lagu males banget sih", itu sebelum aku dengarkan beberapa kali, tapi setelah beberapa kali ku dengarkan malahan menjadi track yang paling sering aku setel. Lagunya sendiri slow dengan iringan gitar, yang kalo dibaca liriknya bisa bikin kita terenyuh (beneran, hampir nangis aku pas pertama kali baca liriknya).


(Nah ketemu juga nih lagu I'm your di youtube, terus ada lagi yang versi film Twilight, emang ada yah di OST-nya? -Girls mode: on- Huhuhu, jadi terenyuh lagi tiap kali dengerin)

Dan menyisakan tiga lagu lainnya yaitu: "End Where I Begin", "Fall For Anything" dan "If You See Kay" yang menurut pendapatku ini lagunya biasa-biasa aja tapi lama-kelamaan jadi suka juga walau gak sesuka lagu-lagu sebelumnya. Berikut penilaianku terhadap tiap lagunya (klik untuk biar tumbuh menjadi raksasa)

Star Rating for The Script's Album

Nah kalo bisa aku kasih nilai, bakal aku kasih 4 dari 5 yang berarti albumnya bagus worthed untuk di beli (aslinya).

Nah setelah dengerin lagu-lagunya, agak bingung juga menentuin genre band in sepertinya dia Rock, tapi menurutku Pop, bukan Rock pedas kaek band-band Amerika sekarang, sepertinya emang Rock mengarah Pop yang kalo lain bilan Pop Rock (mungkin). Kaeknya udah jarang deh band dengan genre seperti ini, mungkin genrenya bisa di setarakan sama oneRepublic kali yah ^__^.

Cover aslinya, bagusan ini dari pada cuman foto Anggota Band.
(Ini album art aslinya)

Terus tadi browsing2 amazon.co.uk, loh kok di negara aslinya - UK (bandnya berasal Ireland) di albumnya ada 11 lagu lagu terakhir yang judulnya "Anybody There" gak ada di CD yang aku punya, curang. Cari di Youtube dah.

(Karena kekurangan pencahayaan dan karena emang kamera DSi-nya yang abal2, jadinya fotonya semuanya grainy ^__^)


(Nah ini dia ketemu lagu kesebelasnya yang ternyata Bonus Song.)

 

Showing 1 - 4 of 4 Articles
OMG, gilak udah banyak juga yach hasil postinganku, kira-kira bisa jadi buku gak?

< Previous 1 Next >