Your Login Details


Blogosphare

A Thought About Digital and Traditional Distribution

By DwAN on 04-Feb-10 18:54. Comments (1)

Digital Vs. Traditional Distribution. Ini hanya sekedar pemikiran sederhanaku, data tidak didukung oleh bukti nyata, jadi sekali lagi artikel ini hanya opiniku semata. Aku bukan profesional analyst dan bukan pemain dalam dunia tersebut, namun kenapa aku menulis artikel ini? Karena memang lagi ingin dan menyangkut proyek rahasia yang sedang aku tekuni (headspin). Dan sebagai peringatan awal, tulisannya ku ini panjang dan tidak berstruktur, sering lompat-lompat dan tidak memiliki arti yang jelas. Sudahku peringatkan loh :D.

Sebelum membahas tentang topik di atas, mari kita menilik sebentar tentang sejarah Digital Distribution. Sepengetahuan aku, Digital Distribution mulai muncul semenjak kepopulean iPod dan munculnya iTunes Music Store yang di besut oleh Apple Corp. Kalau tidak salah tahun 2003-an adalah dimulainya era Digital Distribution. Pada awalnya perkembangan Digital Distribution, produk yang di bawa hanya Music Digital mengingat kecepatan koneksi internet pada zaman tersebut belum secepat koneksi sekarang. Hal yang logis jika Digital Distribution dimulai dari file-file kecil - namely - file-file musik yang rata-ratanya hanya 5 sampai 6 Mega Bytes.

Digital Distribution pada kancah industri music pada saat ini praktis hampir menggeser Traditional Distribution berupa CD dan Kaset hingga saat ini. Namun apakah tiba-tiba semua orang pindah ke Digital Distribution baik para label dan penggemar musik, jawabannya belum. Masih banyak penggemar musik yang lebih memilih Traditional Distribution karena kepemilikan yang nyata dari produk yang dia beli (Ada kotak CD dan Booklet + CD Art-nya). Namun seiring perkembangannya diperkenalkanlah Digital Booklet yang sama menariknya dengan Booklet pada CD.

Walau industri musik belum sepenuhnya ingin berpaling kepada Digital Distribution namun melihat dari hasil penjualan album artis-artis sekarang yang sudah tidak sebanyak zaman dahulu mau tidak mau mereka harus ikut serta didalamnya. Ini tidak hanya terjadi di negara maju saja, di negara kita sendiri ini pun terjadi, namun perbedaannya Digital Distribution di Indonesia berbentuk Ring Back Tone bukan berbentuk Digital Music store a.l.a iTunes Music Store.

Yang selalu menjadi pertanyaanku, apakah memang sudah saatnya industri musik pindah seratus persen ke Digital Distribution? Dilihat dari perkembangannya akhir-akhir ini, industri musik memang sudah seharusnya mulai condong ke arah sana, lihat saja label-label besar di Indonesia sekarang mula tidak gencar dengan Traditional Distributionnya, makin jarang kita lihat iklan untuk menyuruh kita beli Kaset ato CD, malah lebih sering mengiklankan RBT. Ditambah lagi label-label di Indonesia sekarang mulai bergeser dari distributor musik menjadi distributor artis a.k.a. management artis.

Lalu adakah keuntungan dari Digital Distribution tersebut? Pikiran awal kita pasti sedikit CD dan Kaset maka makin sedikit produksi kertas dan plastik untuk produk tersebut, sehingga Digital Distribution lebih ramah lingkungan. Et, jangan lupa, di balik Digital Distribution ada mesin yang berjalan 24 jam dibelakang untuk menyokokng kegiatannya, jadinya tidak tepat kalau dibilang Digital Distribution itu lebih ramah lingkungan.

Kalau aku lebih berfikir ke arah siapa saja jadi bisa mendistribusikan karyanya ke semua orang tanpa melalui pihak Label yang beribet-ribet, para artis tersebut bisa bebas berekspresi tanpa kekangan pihak label yang khawatir kalau karya artisnya tidak sesuai pasaran. Kalau tidak percaya, semisal aku punya 1 lagu yang aku buat aku bisa langsung mempublisnya lewat Internet. Kalau aku memang tidak mencari keuntungan, aku bisa menguploadnya ke last.fm dan memberikan full download buat siapa saja. Cuman kalau mau jualan dikit aku bisa langsung mensubmit ke Online Music Store seperti iTunes Music Store. Tapi apa mungkin bisa? Coba googling Equinox DMD.

Andy Warhol pernah berkata "In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." Mungkin ada benarnya dia.

Enough about Music Industry, how about Movie or Book Industries? Both of them have equal opportunities in Digital Distribution. So true, aku setuju dengan pernyataan ini. Di Movie Industri, kalau mau dibilang aku aja hampir tidak pernah membeli DVD secara fisik, semuanya aku tonton via Internet atau aku sedot dari Internet, dan kalau lagi ada niat ya pergi ke bioskop biar lebih puas.

Digital Distribution untuk Movie Industri memang semenjak awal memang tidak terlalu signifikan, karena orang-orang masih lebih memilih pergi nonton ke Bioskop. Namun perlu di cermati juga bahwa Traditional versus Digital Distribution di Dunia Per-movie-an bisa dibilang tidak saling mematikan, lihat saja masih banyak orang nonton ke Bioskop (iya, baru inget kalau ternyata Bioskop itu bisa di bilang Traditional Distribution).

Beda dengan Music, hambatan terbesar dari Digital Distribution terbentur pada kecepatan internet yang masih kurang cepat untuk mengunduh film-film yang besarnya bisa lebih dari 1 Giga Bytes. Kalau di negara maju kendala ini hampir tidak ada mengingat kecepatan internet di sana yang selalu bikin ngiri kita orang Indonesia. Namun tidak menutup kemungkinan juga, walau di dukung koneksi internet yang cepat, orang-orang di sana masih lebih suka menonton ke bioskop, lihat saja film terlaris sepanjang masa muncul di tahun sekarang (baca: Avatar).

Orang juga masih lebih memilih ke bioskop karena tata suara yang lebih dan layarnya lebih besar ketimbang kalau nonton di rumah sendiri. Kalau pendapatku Digital Distribution di dunia Per-movie-an masih belum banget.

Nah dari Movie menyambung ke TV, tidak dapat dipungkiri juga bahwa Digital Distribution di dunia per TV-an mulai menggeliat juga. Lihat saja mulai bermunculan layanan TV on demand seperti Hulu atau IP TV - layanan TV via internet. Permasalahannya adalah orang lebih suka nonton acara TV di TV (do'oh).

Satu-satunya alasan orang ingin berpindah ke Digital Distribution di dunia per-TV-an karena mereka ingin melihat tontonan kesukaan mereka kapan saja tanpa harus mengikuti jadwal siarannya. Tapi kalau aku prediksi, pada dunia pertelevisian memang Digital dan Traditional Distributionnya akan selalu jalan beriringan, mengingat masih kuatnya budaya menonton TV.

Selanjutnya mari kita bergeser dari industri Movie dan TV yang besar ke industri Movie dan TV yang lebih kecil a.k.a para pemain independent di dunia tersebut. Sama halnya dengan industri music, para indie-ers di dunia ini dimudahkan dalam pemasaran produknya. Semua orang tiba-tiba bisa mempublish karyanya ke khalayak ramai tanpa halangan.

Dan jangan biarkan aku menulis lebih lanjut mengenai Digital Distribution di dunia percetakan dan perbukuan. Walaupun pada industri ini lebih dominan Digital Distribution dibandingkan Traditional Distribution. Apa lagi dunia game yang sudah mengarah ke arah sana dengan Downloadable Content-nya serta Game On Demand.

Kesimpulannya yang ingin aku ambil di sini sebenarnya, Digital Distribution baru mengalami kesuksesan pada industri musik dan buku/percetakan. Untuk industri lain seperti Movie, TV dan Games perlu waktu yang masih lama untuk Digital Distribution menggeser Tradisional Distribution. Saranku (kepada siapa :P) adalah: Digital Distribution memang satu-satunya Distribution untuk masa depan, bagi pihak-pihak yang bersinggungan dengan Digital Distribution sebaiknya bersiap-siap dari sekarang agar tidak tertinggal.

Sebagai tambahan, dengan Digital Distribution tiba-tiba semua orang bisa mempublikasi karyanya ke khalayak ramai, hanya saja nantinya akan terbentur ke hal promosi yang merupakan bahasan yang beda lagi. Hal ini akan memacu para pelaku independent yang ada di setiap dunia tersebut.

Di akhir kata, sekali lagi maafkan tulisanku yang rada semrawut dan tidak memiliki struktur ini, ingin sekali menuangkan semua pemikiranku dalam tulisan ini, namun karena keterbatasan waktu (a.k.a males) jadi aku sudahi saja tulisan. Mungkin dilain waktu akan aku edit lagi sehingga menjadi tulisan yang lebih bermutu. Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah 2 paragraf terakhir sebelum ini, tapi aku jelimetkan dengan tulisan ngawur nan ngaco :D

 

Blake Lewis - Audio Daydream

By DwAN on 30-Dec-09 15:26. Comments (5)

Audio Daydream

Sabtu minggu kemarin, bertepatan dengan acara nonton bareng Avatar 3D dengan Gen El Be Way (Omijot, serem banget pake geng-gengan) di XXI PIM yang penuh bak cendol diudek-udek, aku menyempatkan diri ke toko CD Societe ato Socialete lupa aku (keren abis, nih tokonya high class, yang ternyata Disc Tarra, sempet ngintip layar kasirnya). Sedang mencoba mencari album terbarunya oneRepublic yang ternyata belom ada juga, aku iseng-iseng browsing dan menemukan CD. Tertutup dengan CD Black Eye Peas yang bejibun, dengan plastik yang sudah terbuka dan case yang udah agak retak.

Hampir terharu (berlebihan) karena akhirnya setelah 2 tahun melanglang buana dari toko CD yang satu ke toko CD yang lainnya akhirnya menemukan CD ini. Album Blake Lewis pertama yang berjudul Audio Daydream.

Siapa itu Blake Lewis? Dia itu runer-up American Idol tahun 2007 (kalo gak salah), sejak awal penampilannya di Idol aku sudah ngefans berat dengan cara dia bernyanyi. Selain suaranya yang khas, dia sering bernyanyi dengan beatboxing, hal yang sangat jarang bahkan di industri musik Amerika sono.

2 tahun lalu sempet dengerin lagu-lagu dari album ini (baca download dari intertube, tapi akhirnya sekarang punya yang legal) dan langsung suka. Aliran musiknya pada dasarnya pop, tapi karena suara-suara yang beda pada musiknya dan beat yang cepat bisa dikategorikan bergenre Electronic Pop Dance (genre karangan ku sendiri). Dalam album ini, hampir semua lagunya aku suka terutama lagu yang beritme lebih lambat seperti Without You dan I Got You. Sempat juga browsing-browsing tentang album ini yang ternyata eh ternyata albumnya di produserin oleh tidak lain dan tidak bukan Mr. Ryan Teddar dari oneRepublic. Kebanyakan lagu dalam album ini juga buatan Ryan Teddar dan beberapa buatan Blake Lewis sendiri.

Albumnya sendiri terdiri 16 lagu dimana lagu awal dan akhir ada lah intro dan outro yang cuman 30 detikan, tapi itu lagu intro dan outro 2-2nya aku suka mendengarkannya, karena mengandung pepatah yang tidak lazim "Silence is golden, but I choose noise" seperti judul plurkku yang memang sengaja aku ambil dari outronya lagu Blake Lewis.

Yang anehnya kenapa dia cuman mengandalkan single Break Anotha dan How Many Words dimana padahal ada lagu-lagu lain yang lebih menarik. Berikut penilaianku terhadap album ini (di klik biar jadi besar):

Blake Lewis - Audio Daydream (Review)

Lagu-lagu berbintang lima adalah lagu yang ritmenya lambat sedangkan yang berbintang 4 beritme cepat, dan yang berbintang 3 ke bawah ritmenya lebih cepat lagi. Ternyata aku lebih menyukai lagu beritme lambat dan album ini setengahnya berritme lambat, mungkin itu sebabnya aku menyukai album ini. Cekidot yang berbintang 5 itu lagu seru-seru banget semuanya.

Walau saat ini dia sudah mengeluarkan album baru yang lebih ke arah Pop Dance yang diberi judul Heartbreak on Vinyl (yang belom beredar di Jakarta juga), album ini masih akan aku dengarkan hingga selamanya. Ini album top markotop walau cuman bernilai 4 bintand dari ku.

 

It's Not Me, It's You Album Review

By DwAN on 17-Oct-09 10:44. Comments (0)

Lilly Allen and Beyonce K.

The Review: Lily Allen adalah artis pendatang agak baru dari UK. Kalau pada belom tau "It's Not Me, It's You" adalah album keduanya. Album pertamanya yang sebenarnya lagu-lagunya ku suka tidak sempat ku beli karena mengingat album tersebut kalau tidak salah keluar 2 atau 3 tahun yang lalu dan ketika ada keinginan untuk beli album-album Lily Allen cuma ketemu album keduanya ini.

Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku ada soft fond terhadap artis-artis dari UK, terutama artis-artis cewenya. Mungkin karena lagu-lagu mereka berirama tidak lazim, hehehe. Ada saatnya dulu aku suka sekali sama Sugababes dan Jamelia (Jyah cewe banget dah gw).

Untuk album ini aku beli beberapa bulan yang lalu, ketika itu aku lagi keranjingan lagu Lily Allen yang berjudul F**k You (Bo', judulnya ajah di sensor). Lagu ini amat tidak lazim namun sangat catchy sehingga sering aku humming-kan di dalam hati. Sayang sekali aku tidak browsing-browsing youtube untuk mencari lagu-lagunya yang lain sehingga ketika aku mendengarkan seluruh lagu di albumnya, kepalaku jadi terasa pecah. Seperti yang aku bilang tadi, satu album musik, lagu dan iramanya tidak lazim semua, seperti tanjakan naik turun, circus yang sedang ramai dikunjugi, dsb (susah banget mengungkapkan perasaanku saat itu).

Hari-hari dan minggu-minggu pertama aku mendengarkan albumnya banyak sekali yang aku skip-skip karena saking gak mudengnya aku sama musik jeng Lily Allen ini. Dan sampai sekarang pun album Lily Allen ini adalah album yang paling jarang aku dengarkan, terbukti di list lagu yang sering aku mainkan tidak ada satupun lagu dari Lily Allen, sebagai perbandingannya lagu "I'm Your" dari "The Script" udah bertengger di urutan ke 5 di list lagu yang sering aku mainkan (masih dikalahkan mba' Beyonce yang belom sempet aku bikin review albumnya).

Tapi walaupun albumnya jarang aku dengarkan tapi aku terkadang kangen juga sama lagu-lagu Lily Allen, karena entah mengapa setelah bersusah payah berusaha mendengarkan semua lagu-lagunya akhirnya berbuah juga, ternyata lagu-lagunya ada yang seru juga. Lagu-lagunya walaupun gak easy listening namun cukup menarik untuk di simak.

Kalo pada awalnya cuman lagu "F**k You" yang aku beri bintang 4/5 dan yang lainnya aku berikan bintang 2/5 (segitu gak mudengnya aku sama lagu-laguny), tapi lagu "22" mendadak menjadi lagu yang aku sukai di album ini, langsung aku beri bintang 5/5. Lagunya berlirik menarik sekali, hampir menggambarkan kehidupan ku :(, namun dibawakan dengan nada yang riang jadinya gak bikin sedih.

Ada lagi lagu berjudul "Back To Start" yang setelah aku dengerin berkali kali tiba-tiba aku kasih bintang 4/5. Sekali lagi lagunya memiliki lirik yang menarik kalau bisa tidak dibilang tidak lazim, menceritakan kisah cinta yang menyebalkan dimana karena sking sebelnya akhirnya "Ya udah emang aku yang salah kok, terus mau apa?". Lagunya memiliki tempo lambat namun diiringi dengan musik yang cepat tapi di bagian chorus-nya tiba-tiba temponya jadi cepat (ini dia yang aku bilang perasaanku dibuat naik turun). Dan ternyata eh ternyata walaupun cuma berbintang 4/5, lagu ini merupakan lagu yang sering aku setel dari album ini.

Selanjutnya lagu-lagu yang aku suka adalah "F**k You" dan "The Fear", selain itu ada yang ok lagi cuma gak se OK lagu-lagu yang aku sebutkan tadi. Karena gambar berbicara lebih, ini dia list lagunya album ini beserta penilaianku:

It's Not Me It's You
(Di klik biar jadi gede)

Sekian dan terima kasih, kalo boleh aku kasih nilai album ini aku kasih nilai 2.5/5 yang artinya: OK, tapi mending kamu pinjem dulu dari temenmu sebelum beli 1 album.

The Script - Album Review

By DwAN on 14-Oct-09 14:03. Comments (4)


(Double cover, boros kertas nih)

Gak tau cuma di Indonesia ajah atau nggak, tapi ntah kenapa sampulnya kok jadi Double Cover. Mungkin untuk pasaran Indonesia kurang cocok ya Album Art-nya pake modern art gitu :D. Jadinya di bikin dah tutupan dengan gambar foto anggota Band-nya, jyakakaka (yang sebenarnya itu gambar belakang Album Art CD-nya.

So, selasa 2 minggu yang di niat-niatin dah mau beli CD ini, berhubung di Radio (Global Radio) yang sering aku dengerkan tiba2 jadi sering muterin lagunya. Alhasil sehabis browsing2 youtube buat nyari lagu-lagunya yang lain (hihihi, browsing youtube buat denger lagu doang) dan setelah mengetahui ternyata banyak lagunya yang easy listening jadi diniatin deh beli albumnya.

Ini dia cover versi Indonesianya
(Ini sampul terluarnya yang kaeknya cuma ada di Indonesia)

Sebenarnya ini Band udah mengudara semenjak 2008, soalnya sering banget ngeliat Video Klipnya di O' Channel. Yang kesan pertama waktu pertama dengerin lagu "The Man Who Can't Be Move", wow unik juga, langsung dapet ke-catchy-annya, dan ringan plus, ide cerita video klipnya lumayan unik juga yang merupakan adaptasi dari isi lagunya. Btw, ini album pertama mereka, jadi congrat dah untuk mereka.

(Tadinya mau embed video clip-nya di sini dari youtube tapi gak diperbolehkan ^___^)

Back ke topik (hmm dari tadi padahal belom ngalor-ngidul). Setelah beli ni CD di satu-satunya toko CD di daerah Senayan (baca Duta Suara Plaza Senayan) setiba di rumah aku langsung perdengarkan di komputerku (sambil di-rip dulu. It's legal untuk menge-rip CD di Indonesia?). Kesan pertama: langsung dapet 3 buah lagu langsung aku suka, yaitu "Breakeven", "The Man Who Can't Be Move" dan "Before The Worst" yang ternyata emang lagu-lagu andalan mereka (terlihat dari banyaknya video untuk lagu-lagu itu di Youtube). Sedangkan lagu lainnya aku anggap aneh. 

Selanjutnya setelah dengerin albumnya beberapa kali. Loh kok vokal vokalisnya mirip vokal-nya Sting dan Jason Mraz, bahkan di beberapa lagu ada yang nuansanya mirip nuansanya lagu Sting dan Jason Mraz. Seperti "We Cry" yang nuansanya mirip lagunya Jason Mraz dimana setelah didengarkan beberapa kali, aku jadi suka sama lagunya. Lagunya ada bait semacam agak nge-rap dengan tempo yang medium, walau jenis musiknya beda sama Jason Mraz tapi lantunan lagunya satu tema.

Terus ada lagi lagu "Rusty Halo" dan "Talk You Down" yang nuansanya mirip lagu-lagu Sting. Kedua lagu itu lumayan susah dicernanya, terbukti setelah 5 kalian aku denger baru aku jadi suka sama lagu "Talk You Down" dan belakangan malah jadi suka sama lagu "Rusty Halo" yang berirama cepat dan dengan nada yang tidak biasa. Pas pertama kali dengar sempet berfikir "Lagu apa nih aneh banget, gak banget deh, gak bakal aku dengerkan lagi". Bahakan sempet aku skip-skip terus kalo lagi dengerin albumnya. Tapi sekarang-sekarang kalau dengerin lagu "Rusty Halo" jadi sering keterusan, ada sesuatu dalam musik dan cara penyanyiannya yang bikin pingin dengerin lagi dan lagi.

Terus ada ada lagu lain yang ada di last track (kesepuluh, hmm tumben2an album londo cuman ada 10 lagu) yang judulnya "I'm Yours" (judulnya mirip lagunya Jason Mraz tapi nadanya gak mirip sama sekali), ini ada juga di Youtube tapi gak aku perhatikan dengan seksama. Dan pertama kali aku dengerin lagunya,  komenku: "nih lagu males banget sih", itu sebelum aku dengarkan beberapa kali, tapi setelah beberapa kali ku dengarkan malahan menjadi track yang paling sering aku setel. Lagunya sendiri slow dengan iringan gitar, yang kalo dibaca liriknya bisa bikin kita terenyuh (beneran, hampir nangis aku pas pertama kali baca liriknya).


(Nah ketemu juga nih lagu I'm your di youtube, terus ada lagi yang versi film Twilight, emang ada yah di OST-nya? -Girls mode: on- Huhuhu, jadi terenyuh lagi tiap kali dengerin)

Dan menyisakan tiga lagu lainnya yaitu: "End Where I Begin", "Fall For Anything" dan "If You See Kay" yang menurut pendapatku ini lagunya biasa-biasa aja tapi lama-kelamaan jadi suka juga walau gak sesuka lagu-lagu sebelumnya. Berikut penilaianku terhadap tiap lagunya (klik untuk biar tumbuh menjadi raksasa)

Star Rating for The Script's Album

Nah kalo bisa aku kasih nilai, bakal aku kasih 4 dari 5 yang berarti albumnya bagus worthed untuk di beli (aslinya).

Nah setelah dengerin lagu-lagunya, agak bingung juga menentuin genre band in sepertinya dia Rock, tapi menurutku Pop, bukan Rock pedas kaek band-band Amerika sekarang, sepertinya emang Rock mengarah Pop yang kalo lain bilan Pop Rock (mungkin). Kaeknya udah jarang deh band dengan genre seperti ini, mungkin genrenya bisa di setarakan sama oneRepublic kali yah ^__^.

Cover aslinya, bagusan ini dari pada cuman foto Anggota Band.
(Ini album art aslinya)

Terus tadi browsing2 amazon.co.uk, loh kok di negara aslinya - UK (bandnya berasal Ireland) di albumnya ada 11 lagu lagu terakhir yang judulnya "Anybody There" gak ada di CD yang aku punya, curang. Cari di Youtube dah.

(Karena kekurangan pencahayaan dan karena emang kamera DSi-nya yang abal2, jadinya fotonya semuanya grainy ^__^)


(Nah ini dia ketemu lagu kesebelasnya yang ternyata Bonus Song.)

 

Showing 1 - 4 of 4 Articles
OMG, gilak udah banyak juga yach hasil postinganku, kira-kira bisa jadi buku gak?

< Previous 1 Next >